Mengapa Penduduk Indonesia Tidak Fasih Berbahasa Belanda Seperti Malaysia dan Singapura Berbahasa Inggris
Editor
Desi Rossilawati
Kamis, 16 Januari 2025 | 00:45 WIB
VISI.NEWS | BANDUNG - Indonesia, Malaysia, dan Singapura adalah negara bekas jajahan bangsa Eropa. Namun, meski Malaysia dan Singapura, yang dijajah oleh Inggris, memiliki tingkat kefasihan tinggi dalam berbahasa Inggris, masyarakat Indonesia berbeda. Jejak kolonial Belanda hanya terlihat pada beberapa kata serapan seperti "gorden" (gordijn), "bioskop" (bioscoop), dan "kantor" (kantoor), tanpa adanya keterampilan bahasa yang luas di masyarakat.
Peneliti sejarah dari Nanyang Technological University, Christopher Reinhart, menjelaskan bahwa perbedaan ini berasal dari pendekatan kolonial yang berbeda. Inggris, selama menjajah Malaysia dan Singapura, menyebarkan kebudayaan dan bahasa mereka untuk mengintegrasikan masyarakat lokal ke dalam sistem kolonial Barat. Sebaliknya, Belanda memprioritaskan eksploitasi ekonomi tanpa menanamkan budaya atau bahasa mereka.
Menurut Reinhart, struktur kolonial Belanda menempatkan penduduk lokal di lapisan bawah masyarakat, sehingga penyebaran kebudayaan dianggap tidak perlu. Pendekatan ini memastikan masyarakat lokal tidak dianggap setara secara kultural dengan orang Belanda, menjaga stratifikasi sosial yang menguntungkan mereka.
Selain itu, Belanda juga mengikuti prinsip non-intervensi budaya yang diusung oleh pejabat kolonial seperti Snouck Hurgronje. Mereka percaya bahwa kebudayaan lokal sebaiknya berkembang tanpa campur tangan asing, selama sistem kolonial tetap mendukung kepentingan ekonomi Belanda.
"Snouck Hurgronje, salah satu pejabat pemerintah kolonial, pernah mengatakan bahwa 'masalah kebudayaan tidak usah dipaksa. Biarlah bertumbuh dengan sendirinya, tanpa menghilangkan budaya lokal," kata Reinhart.
Pendekatan ini, yang berlangsung dari era tanam paksa hingga politik etis, membiarkan bahasa Melayu dan kemudian bahasa Indonesia berkembang secara mandiri. Inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa bahasa Belanda tidak menjadi bagian penting dari identitas linguistik Indonesia seperti bahasa Inggris di Malaysia dan Singapura. @ffr
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!