Mengapa Orang yang Tidak Merokok Bisa Tetap Mengalami Kanker Paru-paru
Editor
Desi Rossilawati
Senin, 11 November 2024 | 01:00 WIB
VISI.NEWS | BANDUNG - Merokok dikenal sebagai faktor risiko utama penyebab kanker paru-paru. Namun, meskipun tidak merokok, seseorang tetap bisa mengidap kanker paru-paru. Hal ini dialami oleh Sally Hall, seorang wanita asal Inggris berusia 66 tahun yang didiagnosis mengidap kanker paru stadium akhir meskipun ia tidak pernah merokok. Awalnya, Sally tidak menyadari gejala awal penyakitnya karena ia hanya merasakan nyeri punggung, yang ia anggap sebagai keluhan biasa.
Dr. Andhika Rachman, spesialis penyakit dalam konsultan hematologi-onkologi, menjelaskan bahwa selain merokok, ada faktor lain yang bisa meningkatkan risiko seseorang terkena kanker paru-paru. Salah satunya adalah mutasi gen, seperti pada gen EGFR, ALK, dan ROS1, yang sering ditemukan pada pengidap kanker paru yang tidak merokok. Faktor-faktor genetik ini berperan penting dalam perkembangan kanker paru pada individu yang tampaknya tidak memiliki kebiasaan merokok.
"Faktor genetik ini dapat memicu pertumbuhan sel kanker di paru-paru meskipun tidak ada paparan tembakau," ucapnya.
Selain faktor genetik, polusi udara, terutama partikel halus seperti PM 2.5, juga dapat meningkatkan risiko kanker paru-paru, bahkan pada orang yang tidak merokok. Dr. Andhika Rachman menjelaskan bahwa di daerah dengan tingkat polusi udara tinggi, risiko terkena kanker paru semakin besar. Selain itu, paparan jangka panjang terhadap asbes, yang dapat menyebabkan mesothelioma, juga berhubungan erat dengan kanker paru.
Riwayat keluarga yang menderita kanker paru, meskipun tidak ada faktor risiko lain seperti merokok, juga bisa meningkatkan kemungkinan seseorang untuk mengidap penyakit ini. Jenis kanker paru yang paling sering dialami oleh non-perokok adalah adenokarsinoma, yang termasuk dalam kelompok non-small cell lung cancer (NSCLC) dan cenderung berkembang lebih lambat.
Adenokarsinoma biasanya berkembang di bagian luar paru-paru dan seringkali tidak menimbulkan gejala hingga stadium lanjut, ketika kanker telah menyebar ke organ lain seperti hati, otak, atau tulang. Pada stadium ini, gejala baru mulai dirasakan, yang membuat diagnosis terlambat.
"Meski demikian, adenokarsinoma dapat menyebar ke organ lain, terutama bila tidak terdeteksi dini," ujarnya. @ffr
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!