Mengapa Masyarakat Indonesia Tidak Fasih Berbahasa Belanda?
Editor
Desi Rossilawati
Minggu, 1 Desember 2024 | 09:00 WIB
VISI.NEWS | BANDUNG - Indonesia, Malaysia, dan Singapura memiliki sejarah penjajahan oleh bangsa-bangsa Eropa yang berbeda, yang meninggalkan jejak yang mendalam dalam aspek hukum, budaya, politik, dan bahasa. Indonesia yang pernah dijajah oleh Belanda selama lebih dari 300 tahun, Malaysia, dan Singapura yang berada di bawah kekuasaan Inggris, menghadapi dampak berbeda dalam hal bahasa.
Meskipun Indonesia berada di bawah penjajahan Belanda selama berabad-abad, masyarakat Indonesia tidak fasih berbahasa Belanda. Hal ini bertolak belakang dengan kondisi di Malaysia dan Singapura, yang meskipun pernah dijajah oleh Inggris, sebagian besar masyarakatnya cukup fasih berbahasa Inggris. Lantas, mengapa masyarakat Indonesia tidak menguasai bahasa Belanda?
Menurut peneliti sejarah dari Nanyang Technological University, Christopher Reinhart, perbedaan dalam kebijakan kolonial Belanda dan Inggris menjadi faktor utama. Pada masa kolonial, Inggris secara sengaja mengintegrasikan kebudayaan Barat ke dalam kehidupan masyarakat Melayu, yang mengarah pada proses pembauran budaya. Kebijakan ini, baik secara langsung maupun tidak langsung, membuat orang Melayu lebih mudah untuk belajar dan berbahasa Inggris.
Sebaliknya, Belanda tidak mengadopsi pendekatan yang sama di Indonesia. Belanda melihat struktur kolonial di Indonesia sebagai hierarki yang tegas, di mana orang Belanda berada di kelas atas, sedangkan penduduk lokal dianggap berada di kelas bawah. Oleh karena itu, Belanda tidak merasa perlu untuk mengajarkan bahasa dan budaya mereka kepada masyarakat Indonesia. Selain itu, Belanda lebih fokus pada eksploitasi ekonomi daripada penyebaran budaya. Seperti yang disampaikan oleh Snouck Hurgronje, seorang pejabat pemerintah kolonial Belanda, "masalah kebudayaan tidak usah dipaksa. Biarlah bertumbuh dengan sendirinya, tanpa menghilangkan budaya lokal."
Pendekatan ini tercermin dalam kebijakan-kebijakan yang diterapkan Belanda, seperti sistem tanam paksa (1830-1900) yang lebih mengutamakan eksploitasi sumber daya alam daripada interaksi budaya dengan masyarakat lokal. Bahkan ketika Belanda menerapkan politik etis pada tahun 1900, yang berfokus pada peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal, mereka tetap tidak mengutamakan penyebaran kebudayaan Belanda.
Namun, meskipun Belanda tidak secara langsung memaksakan budaya mereka, banyak elemen budaya Barat yang diterima dan diadaptasi oleh masyarakat Indonesia, termasuk beberapa kata serapan dari bahasa Belanda. Kata-kata seperti gordijn menjadi gorden, bioscoop menjadi bioskop, dan kantoor menjadi kantor adalah contoh dari pengaruh bahasa Belanda yang tetap hadir dalam bahasa Indonesia.
Kesimpulannya, meskipun Indonesia dan Belanda memiliki sejarah yang panjang, sikap Belanda yang lebih fokus pada eksploitasi ekonomi dan penghindaran dari penyebaran budaya Belanda menjadi alasan utama mengapa masyarakat Indonesia tidak fasih berbahasa Belanda. Sebaliknya, bahasa Indonesia, yang berakar dari bahasa Melayu, berkembang dengan pesat dan menjadi bahasa nasional yang digunakan di seluruh negeri hingga saat ini. @ffr
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!