IKAPJ Santuni 448 Anak Yatim dan Dhuafa dalam Peringatan Maulid Nabi di Polije 28 Aug 2026 Dari Tenaga Honorer, Muhamad Dahlan Kini Pimpin SDN Girimekar dengan Program Pendidikan Berkarakter 28 Aug 2026 Harga Tiket Mahal, The Jakmania Boikot Laga Persija vs Brisbane Roar 28 Aug 2026 Hasil FP1 MotoGP Aragon 2026, Marc Marquez Tercepat 28 Aug 2026 Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 Lengkap 28 Aug 2026 Toyota Camry Terbakar di Tol MBZ Arah Cikampek 28 Aug 2026 Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur Bank Indonesia 2026-2031 28 Aug 2026 Pesawat Tempur F-16 Lalu-lalang di Jakarta, Ini Penjelasan TNI AU 28 Aug 2026 3 Faktor Gaya Hidup yang Bisa Picu Penuaan Dini 28 Aug 2026 Ahli Ungkap Waktu Tidur yang Tepat untuk Jaga Energi 28 Aug 2026 IKAPJ Santuni 448 Anak Yatim dan Dhuafa dalam Peringatan Maulid Nabi di Polije 28 Aug 2026 Dari Tenaga Honorer, Muhamad Dahlan Kini Pimpin SDN Girimekar dengan Program Pendidikan Berkarakter 28 Aug 2026 Harga Tiket Mahal, The Jakmania Boikot Laga Persija vs Brisbane Roar 28 Aug 2026 Hasil FP1 MotoGP Aragon 2026, Marc Marquez Tercepat 28 Aug 2026 Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 Lengkap 28 Aug 2026 Toyota Camry Terbakar di Tol MBZ Arah Cikampek 28 Aug 2026 Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur Bank Indonesia 2026-2031 28 Aug 2026 Pesawat Tempur F-16 Lalu-lalang di Jakarta, Ini Penjelasan TNI AU 28 Aug 2026 3 Faktor Gaya Hidup yang Bisa Picu Penuaan Dini 28 Aug 2026 Ahli Ungkap Waktu Tidur yang Tepat untuk Jaga Energi 28 Aug 2026

Membaca Ika Ismurdiyahwati

ED
Sabtu, 19 November 2022 | 14:35 WIB
Bagikan
Membaca Ika Ismurdiyahwati

Penggunaan benang, tali, kawat berduri merupakan simbol-simbol yang merefleksikan belenggu masyarakat terhadap perempuan. Dan hal itu diperkuat dengan lilitan dan rajutan yang menyimbolkan penjara terhadap kiprah perempuan demikian struktural sehingga ia nampak indah namun sebenarnya suatu bencana bagai kebebasan dan keleluasan perempuan. Batu, walau ia nampak sekilas sebagai pemberat dari rajutan, namun benda itu juga dirajut oleh struktur masyarakat sehingga ia tetap beku dan tidak bergerak. Kiranya itulah makna yang terbaca dari karya-karya Ika dalam pameran ini. Terasa ada fleksibilitas dalam instalasi karya yang disesuaikan dengan ruang namun esensinya tetap sama: keinginan untuk membebaskan diri dari belenggu yang dibalut oleh norma-norma, aturan, tabu, dan sanksi sosial yang berusaha mengekang perempuan untuk maju lebih jauh.

Sudah menjadi teorema umum bahwa karya seni yang baik adalah karya yang menunjukkan keseimbangan antara aspek diskursus dengan sisi estetis. Dalam mengejawantahkan lilitan yang membelenggu, Ika menggabungkan unsur yang kasar seperti batu, kaca dan kawat dengan unsur yang halus yaitu rajutan benang. Dari sana tercipta puisi yang mengambarkan peristiwa tarik menarik antara yang kasar dengan yang halus, yang keras dengan yang lembut. Lilitan-litan itu pun mempunyai pola, yaitu pola menyilang dan memancar. Hal itu untuk mengundang tanya dan curiosity ke pemirsa bahwa ada lilitan yang menuju atau keluar dari pusat, atau ditarik dan menarik beban, dalam hal ini kaca. Penggunaan warna putih pada lilitan juga mengesankan mata sehingga karya terlihat menonjol dalam merespon ruang. Selanjutnya, kita serahkan ke pemirsa apakah mereka merasakan adanya himpitan atau belenggu yang sama setelah melihat karya-karya Ika ini. Atau sebaliknya, pemirsa justru merasa tercerahkan dengan instalasi yang disuguhkan.***

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.