Membaca Ika Ismurdiyahwati
Penggunaan benang, tali, kawat berduri merupakan simbol-simbol yang merefleksikan belenggu masyarakat terhadap perempuan. Dan hal itu diperkuat dengan lilitan dan rajutan yang menyimbolkan penjara terhadap kiprah perempuan demikian struktural sehingga ia nampak indah namun sebenarnya suatu bencana bagai kebebasan dan keleluasan perempuan. Batu, walau ia nampak sekilas sebagai pemberat dari rajutan, namun benda itu juga dirajut oleh struktur masyarakat sehingga ia tetap beku dan tidak bergerak. Kiranya itulah makna yang terbaca dari karya-karya Ika dalam pameran ini. Terasa ada fleksibilitas dalam instalasi karya yang disesuaikan dengan ruang namun esensinya tetap sama: keinginan untuk membebaskan diri dari belenggu yang dibalut oleh norma-norma, aturan, tabu, dan sanksi sosial yang berusaha mengekang perempuan untuk maju lebih jauh.
Sudah menjadi teorema umum bahwa karya seni yang baik adalah karya yang menunjukkan keseimbangan antara aspek diskursus dengan sisi estetis. Dalam mengejawantahkan lilitan yang membelenggu, Ika menggabungkan unsur yang kasar seperti batu, kaca dan kawat dengan unsur yang halus yaitu rajutan benang. Dari sana tercipta puisi yang mengambarkan peristiwa tarik menarik antara yang kasar dengan yang halus, yang keras dengan yang lembut. Lilitan-litan itu pun mempunyai pola, yaitu pola menyilang dan memancar. Hal itu untuk mengundang tanya dan curiosity ke pemirsa bahwa ada lilitan yang menuju atau keluar dari pusat, atau ditarik dan menarik beban, dalam hal ini kaca. Penggunaan warna putih pada lilitan juga mengesankan mata sehingga karya terlihat menonjol dalam merespon ruang. Selanjutnya, kita serahkan ke pemirsa apakah mereka merasakan adanya himpitan atau belenggu yang sama setelah melihat karya-karya Ika ini. Atau sebaliknya, pemirsa justru merasa tercerahkan dengan instalasi yang disuguhkan.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!