Memahami Hasad dan Cara Mengatasinya
الْحَسَدُ وَهُوَ أَنْ يَحْمِلَكَ الْحِقْدُ عَلَى أن تتمنى زوال النعمة عنه فتغثم بِنِعْمَةٍ إِنْ أَصَابَهَا وَتُسَرَّ بِمُصِيبَةٍ إِنْ نَزَلَتْ به وهذا من فعل المنافقين
Artinya: “Hasad ialah dorongan dari rasa iri dengan menginginkan hilangnya kenikmatan pada diri orang lain, merasa susah saat orang lain mendapatkan kenikmatan dan bahagia saat orang lain mendapatkan musibah. Ini merupakan sifat orang-orang munafik”. (Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, , juz 5 hal 646). Dalam Al-Qur’an, penyakit hasad disebutkan dalam beberapa ayat. Di antaranya adalah firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 54 berikut:اَمْ يَحْسُدُوْنَ النَّاسَ عَلٰى مَآ اٰتٰىهُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖۚ فَقَدْ اٰتَيْنَآ اٰلَ اِبْرٰهِيْمَ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاٰتَيْنٰهُمْ مُّلْكًا عَظِيْمًا
Artinya: “Ataukah mereka dengki kepada manusia karena karunia yang telah dianugerahkan Allah kepadanya? Sungguh, Kami telah menganugerahkan kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim dan Kami telah menganugerahkan kerajaan (kekuasaan) yang sangat besar kepada mereka”. (Qs. An-Nisa: 54) Ayat di atas merupakan sindiran berupa “istifham ingkari” (pertanyaan yang berisi pengingkaran) yang ditujukan kepada Ahli Kitab yang kufur karena iri terhadap nubuwah Nabi Muhammad Saw yang bukan dari kalangan mereka. Dalam hal ini, Allah Swt kemudian memberikan penjelasan bahwa risalah yang turun pada Nabi Muhammad Saw merupakan anugerah dari Allah Swt. Terkait hal tersebut, Ibnu Katsir menjelaskan:يَعْنِي بِذَلِكَ حَسَدَهُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مَا رَزَقَهُ اللَّهُ مِنَ النُّبُوَّةِ الْعَظِيمَةِ، وَمَنَعَهَمْ مِنْ تَصْدِيقِهِمْ إِيَّاهُ حَسَدُهُمْ لَهُ، لِكَوْنِهِ مِنَ الْعَرَبِ وَلَيْسَ من بني إسرائيل
Artinya: “Mereka (Ahli Kitab) iri terhadap anugerah kenabian yang agung yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad Saw. Sehingga mereka mengingkari untuk membenarkannya sebab sifat hasad mereka. Hal itu dikarenakan Nabi Muhammad Saw adalah bangsa Arab bukan dari kalangan Bani Israil” (Ibnu Katsir, Tafsirul Qur’anil Adzim, , juz II, hal 296). Dosa Pertama yang dilakukan Makhluk Dalam Islam, hasad atau iri hati termasuk salah satu penyakit hati yang mendapat perhatian khusus di kalangan ulama. Sebab hasad tidak hanya berdampak pada aspek spiritual individu, tetapi juga berimplikasi sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Hasad menumbuhkan kebencian, menurunkan kepercayaan sosial, serta menghambat tumbuhnya solidaritas dan etos kerja kolektif. Bahkan menurut sebagian ulama salaf, dosa pertama yang dilakukan oleh makhluk kepada Allah Swt disebabkan sifat hasad.قال بعض السلف أول خطيئة هِيَ الْحَسَدُ حَسَدَ إِبْلِيسُ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ عَلَى رُتْبَتِهِ فَأَبَى أَنْ يَسْجُدَ لَهُ فَحَمَلَهُ على الحسد والمعصية
Artinya: “Sebagian ulama salaf berkata: dosa pertama yang dilakukan ialah hasad yaitu hasad yang dilakukan oleh Iblis kepada Adam as atas kedudukannya. Iblis enggan sujud menghormati Adam atas perintah Allah yang mendorongnya melakukan hasad dan maksiat.” (Al-Ghazali, 672) Dalam kasus yang lain yang juga dikisahkan dalam Al-Qur’an, ilustrasi kisah pembunuhan pertama oleh anak Nabi Adam as yaitu Qabil terhadap Habil juga dilatarbelakangi oleh hasad. Cara Mengatasi Penyakit Hasad Dalam Islam, hasad termasuk penyakit hati yang cukup berat. Lantas bagaimana cara mengatasinya? Berikut adalah beberapa tips untuk mengatasi penyakit hasad: 1. Menyadari semua nikmat dari Allah Penyakit hasad timbul karena seseorang tidak menyadari bahwa semua nikmat berasal dari Allah Swt. Dengan menyadari bahwa semua nikmat berasal dari Allah, maka seseorang akan terhindar dari sifat hasad. 2. Mensyukuri nikmat yang diberikan Allah Setelah menyadari bahwa semua nikmat berasal dari Allah, maka tahap selanjutnya ialah bersyukur terhadap nikmat yang diberikan oleh Allah. Dengan bersyukur, maka seseorang akan bisa lebih fokus terhadap nilai dan perkembangan diri sendiri. Dalam psikologi industri, terdapat istilah sikap kerja yang disebut Job involvement atau keterlibatan kerja yang diartikan sebagai tingkat di mana seseorang mengenal pekerjaannya secara psikologi dan merasakan tingkat kinerja mereka itu penting bagi harga diri. Karyawan yang memiliki tingkat keterlibatan kerja tinggi akan sangat mengenali pekerjaannya dan benar-benar perhatian terhadap apa saja pekerjaan yang dilakukan. (Dr. Umi Anugerah Izzati, dkk. Psikologi Industri dan Organisasi, , hal 52) Dalam kasus pegawai yang iri dengan rekannya di atas, bersyukur dan melakukan komitmen terhadap diri sendiri dalam bekerja akan membuat hati menjadi lebih tenang dan pekerjaan lebih maksimal. Bahkan Allah Swt menjanjikan bagi siapa saja yang bersyukur akan ditambahkan nikmat oleh Allah Swt. 3. Mengetahui bahaya hasad Tips ketiga agar terhindar dari hasad ialah mengetahui bahwa bahaya hasad justru akan datang pada diri sendiri, bukan pada orang yang dihasudi. Hasad berbahaya bagi diri sendiri, baik dalam urusan dunia maupun agama. Dalam urusan agama, dengan hasad, seseorang dapat dianggap tidak menerima keputusan Allah Swt dan tidak bersyukur terhadap nikmat yang telah Allah berikan serta menganggap Allah tidak adil terhadap makhluk-Nya. Sedangkan dalam urusan dunia, dengan hasad seseorang akan merasakan sakit hati yang mendalam disebabkan hasad di dalam hatinya. (Al-Ghazali, hal 701) 4. Tidak ada dampak pada orang yang dihasadi Tips keempat yang dapat dilakukan agar terlepas dari bahaya hasad ialah dengan menyadari bahwa orang yang dihasudi tidak akan mendapatkan dampak apapun terhadap hasad yang dilakukan. Itu hanya akan menyakiti diri sendiri dan tidak berdampak pada orang lain. (Al-Ghazali, 702) Hasad yang diperbolehkan dalam Islam Meski pada dasarnya hasad tidak diperkenankan dalam Islam, namun terdapat dua hasad yang dibolehkan dalam Islam tapi bukan sebagai suatu keburukan, melainkan sebagai motivasi agar bisa mengikuti jejak orang yang dihasudi. Hal tersebut sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw:وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لا حسَدَ إلَّا في اثنتَيْنِ : رجُل آتاه اللهُ مالًا فسلَّطه على هلَكتِه في الحقِّ ورجُل آتاه اللهُ حِكمةً فهو يقضي بها ويُعلِّمُها
Artinya: “Nabi Muhammad Saw bersabda: tidak diperkenankan hasad kecuali pada dua orang yaitu seseorang yang Allah berikan harta yang ia belanjakan hartanya untuk kebenaran dan seseorang yang Allah beri ilmu yang ia amalkan dan ajarkan”. (Muttafaqun alaih) Dengan demikian, pada dasarnya hasad merupakan penyakit hati yang harus dihindari karena dapat merusak diri sendiri, baik dalam urusan dunia maupun agama. Namun demikian, ada dua hasad yang diperbolehkan dan bisa dijadikan sebagai motivasi untuk mengikutinya, yaitu pada orang yang hartanya diinfakkan di jalan Allah dan ilmunya diamalkan serta diajarkan pada orang lain. Wallahu a’lam @uliBerita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!