Legenda dan Filosofi di Balik Kue Keranjang, Sajian Khas Imlek
Editor
Desi Rossilawati
Rabu, 29 Januari 2025 | 00:45 WIB
VISI.NEWS | BANDUNG - Kue keranjang atau nian gao adalah makanan tradisional yang identik dengan perayaan Imlek. Terbuat dari tepung ketan, air, dan gula, kue ini memiliki tekstur lengket yang menyerupai dodol.
Setiap akhir tahun Dewa Dapur dikisahkan menyampaikan laporan tahunan kepada Kaisar Giok tentang rumah tangga yang dia awasi menurut legenda yang dikutip dari China Highlights Senin (27/1/2025). Untuk mencegah laporan buruk, masyarakat menyajikan kue keranjang agar mulut sang dewa ‘tertutup’ oleh tekstur lengketnya.
Cerita lain menyebutkan bahwa kue keranjang sudah dikenal sejak 2000 tahun lalu. Setelah Kalender China diperkenalkan pada Dinasti Zhou, masyarakat mulai mempersembahkan nian gao sebagai sesaji untuk dewa dan leluhur mereka.
Pada Dinasti Tang, nian gao mulai dikonsumsi selama Festival Musim Semi. Tradisi ini terus berkembang, hingga pada Dinasti Qing kue tersebut menjadi makanan ringan yang dikonsumsi sepanjang tahun, meski tetap menjadi suguhan utama saat Imlek.
Secara simbolis, kue keranjang melambangkan kemakmuran dan peningkatan diri. Nama ‘nian gao’ terdengar mirip dengan frasa ‘semakin tinggi dari tahun ke tahun,’ yang menjadi harapan akan kesuksesan dalam pekerjaan, bisnis, keluarga, dan pendidikan.
Selama Imlek, kue keranjang dipercaya dapat mempererat hubungan keluarga dan menghindari ucapan buruk saat makan bersama. Karena maknanya yang sarat simbol keberuntungan, penjualan kue keranjang pun melonjak tajam setiap Tahun Baru China. @ffr
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!