KTT Masa Depan Perempuan Memimpin Gerakan Hijau
Oleh Yuen Yoong Leong
- Jaringan Solusi Pembangunan Berkelanjutan PBB, Universitas Sunway
PEREMPUAN memiliki peran penting di garis depan aksi iklim. Mereka mendorong perubahan kebijakan, menginspirasi solusi berkelanjutan, serta memperjuangkan perlindungan lingkungan dan keadilan sosial. Dari posisi pemerintahan hingga perusahaan dan gerakan akar rumput, kepemimpinan mereka sangat penting. Namun, ada peringatan.
Sementara beberapa perempuan yang memiliki hak istimewa memegang posisi berpengaruh, sebagian besar sering kali dikecualikan dari percakapan. Perempuan sangat kurang terwakili dalam peran pengambilan keputusan di semua tingkatan, termasuk dalam arena perubahan iklim.
Hanya 15 dari 133 pemimpin dunia yang menghadiri COP28 pada tahun 2023 adalah perempuan. Sementara kepemimpinan perempuan sering berkembang di masyarakat, suara mereka kurang menonjol di tingkat nasional. Garis depan iklim Laporan UN Women memperingatkan bahwa perubahan iklim dapat mendorong hingga 158 juta lebih perempuan dan anak perempuan jatuh miskin pada tahun 2050. Perempuan dan anak perempuan merupakan 80 persen dari populasi yang terlantar akibat perubahan iklim, yang menghadapi risiko yang lebih tinggi.
Penelitian menggarisbawahi hubungan antara kepemimpinan perempuan dan kebijakan iklim yang lebih kuat, yang menyoroti pentingnya memberdayakan perempuan untuk memainkan peran yang lebih besar dalam membentuk solusi iklim.
Namun, beberapa ilmuwan perempuan yang luar biasa, akademisi perempuan, pemimpin adat perempuan, dan filantropis perempuan memimpin perubahan dan menawarkan harapan bagi jutaan orang yang suaranya belum didengar.
Datu Dr Lulie Melling, misalnya, adalah perempuan Asia pertama yang terpilih menjadi dewan eksekutif International Peatland Society. Kepemimpinannya yang berkelanjutan menggarisbawahi kontribusi perempuan yang tak ternilai bagi penelitian lahan gambut tropis dan komunitas ilmiah yang lebih luas. Perempuan juga memimpin transisi menuju masa depan rendah karbon. Profesor Phoebe Koundouri, pakar global dalam pembangunan berkelanjutan, mempelopori upaya untuk mengintegrasikan model iklim dan energi di seluruh dunia melalui Global Climate Hub milik Jaringan Solusi Pembangunan Berkelanjutan PBB.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!