Krisis Pangan dan Pola Makan Buruk Mengintai Anak Muda
Serangkaian webinar yang melibatkan pemuda dari seluruh pulau di Indonesia untuk membahas isu-isu terkait pangan sehat dan ketahanan pangan.
Diskusi interaktif dengan narasumber ahli mengenai pentingnya pangan sehat dan peran pemuda dalam transformasi sistem pangan.
Kesempatan inj menjadi wadah bagi PARARA untuk mewujudkan misi ‘berbagi dan belajar antargenerasi' yang dikembangkan dari tema PBB “Jalur Digital untuk Pembangunan Berkelanjutan”. Pada peluncuran kegiatan ini, PARARA berusaha memperkenalkan kepada para pemuda di seluruh kepulauan Indonesia tentang masalah kesehatan yang menghantui generasi muda, pentingnya hidup sehat untuk keluarga dan bangsa, serta peran pemuda dalam transformasi system pangan se-nusantara Indonesia.
Acara pada Rabu, 28 Agustus 2024 lalu itu dibuka dengan dua sesi talkshow dan ramah tamah menu makanan sehat bersama Aziz Amri (Master Chef Season 7), MS. Fauzan D. (founder Rumah Koro), Arsya Aafiati Kunthi (Health Heroes), Andi Reski Aprianti (Meatless Monday Indonesia).
Melalui rangkaian program tersebut, PARARA mendorong pemuda Indonesia untuk lebih peduli terhadap pangan lokal dan pengetahuan tradisional dalam pertanian, kehutanan, dan perikanan.
Fauzan, salah satu pemuda yang terlibat dalam program ini, menekankan pentingnya kemandirian pangan berbasis pangan lokal. “Bila generasi muda, pemerintah, dan pemimpin bangsa tidak sadar dan serius menangani ketahanan pangan bangsa, maka ke depan generasi muda kita tidak akan bertahan dalam bersaing dengan rekan rekan mereka dari negara lain,” tegas Fauzan, yang juga merupakan founder Rumah Koro yang mempromosikan kacang koro.
Perjalanan untuk menemukan kembali pentingnya sistem pengetahuan tradisional dalam pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi tujuan yang ingin dicapai PARARA melalui pendampingan intensif selama satu bulan di kegiatan PARARA International Youth Month 2024. Diharapkan melalui kesempatan ini pemuda Indonesia dapat memahami dan membangun potensi aset lokal, pengetahuan lokal, sejarah lokal, budaya lokal, dan keunggulan geografis lokal untuk mengembangkan ketahanan pangan yang merata.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!