KHUTBAH JUMAT | Rujukan Belajar Ilmu Agama
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Ciri lain orang yang dapat dijadikan rujukan ilmunya adalah mereka yang dapat dipercaya ucapan dan tindakannya. Bukan orang yang berani membohongi umat untuk kepentingan pribadi dan golongan. Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari dalam kitab Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah menegaskan:
وَلا عَمَّنْ يَكْذِبُ فِيْ حَدِيْثِ النَّاسِ وَإنْ كَانَ لا يَكْذِبُ فِيْ حَدِيْثِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Artinya: “Dan jangan mengambil ilmu dari seseorang yang melakukan kebohongan di muka umum, walaupun dia tidak berbohong jika sedang berbicara tentang hadits Nabi Muhammad saw”.
Maka, jangan hanya menilai seseorang dari ilmunya saja, tetapi juga dari amal perbuatannya. Ilmu yang disertai dengan keikhlasan dan kejujuran memiliki kekuatan besar untuk menyentuh hati seseorang yang mendengarnya, dan tentu saja membawa keberkahan bagi umat.
Hal ini jauh lebih berharga daripada segudang ilmu tanpa kejujuran dan pengamalan. Al-Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith dalam Al-Manhajus Sawi mengatakan:
كَلَامُ أهْلِ الإخْلاصِ وَالصِّدْقِ نُوْرٌ وَبَرَكَةٌ وَاِنْ كَانَ غَيْرَ فَصِيْحٍ
Artinya: “Perkataan orang-orang yang ikhlas dan jujur adalah cahaya dan keberkahan, meskipun tidak diungkapkan dengan fasih.”
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!