VISI.NEWS | MEKKAH - Ketua Kloter
Jabar 7 Kabupaten Bandung, H. Dadin Arief, mengungkapkan rasa syukurnya atas pelaksanaan ibadah haji tahun ini yang berjalan cukup baik. Ia menyampaikan hal tersebut setelah melakukan komunikasi dan pengamatan langsung terhadap
pengelolaan jemaah, khususnya di
lokasi pemondokan Al Muzna. "Kita sudah sempat
survei sebelumnya, jadi secara gambaran tempat dan jumlah tempat tidur sebenarnya tidak ada persoalan," ujar Dadin di Mekkah, Selasa (10/6/2025).
Namun demikian, Dadin tak menampik bahwa masih ada beberapa dinamika di lapangan yang timbul dari hal-hal kecil, seperti keengganan sebagian jemaah untuk berbagi kamar. Menurutnya, persoalan ini muncul ketika jemaah yang tiba lebih dulu merasa tidak nyaman saat tempatnya ditempati jemaah lain yang baru datang. "Kondisi kelelahan membuat sebagian jemaah ingin dilayani lebih, sehingga kadang
emosi muncul. Tapi dengan kesadaran kolektif dan mengingat nilai-nilai haji seperti wala jidal wala fusuk,
masalah bisa diredam," jelasnya.
Di Arafah dan
Mina, pengaturan tempat juga sempat mengalami tantangan, namun tidak sampai menjadi kendala besar. Di Mina, kloter KJT 7 mendapatkan tujuh tenda yang secara teori cukup menampung 460 jemaah, sedangkan jumlah jemaah hanya 444 orang. "Untuk laki-laki malah ada kelebihan 10 tempat tidur, dan
perempuan hanya kurang satu bed. Seharusnya tidak jadi persoalan berarti," ujar Dadin.
Di Arafah, KJT 7 sempat berbagi tenda dengan KJT 6 karena kapasitas tenda yang tersedia hanya bisa menampung 374 orang, sementara sisanya 70 orang harus berbagi. Masalah sempat muncul saat kedatangan karena jemaah dari Banjarmasin (kloter BDJ) lebih dulu menempati lokasi tersebut. Namun melalui komunikasi yang baik, tempat bisa dikembalikan sesuai peruntukannya.
Koordinasi intens terus dilakukan dengan pihak Maktab 52 yang membawahi sembilan kloter, termasuk KJT 7. Dadin menilai komunikasi antara ketua kloter, pihak sektor, dan syarikah sangat
penting, terutama dalam pengaturan teknis keberangkatan dan pemulangan jemaah. "Maktab yang juga disebut Markaz di sini sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk 3.800 jemaah," ungkapnya.
Salah satu hal yang menjadi catatan penting menurut Dadin adalah transisi dari dua syarikah ke delapan syarikah. Perubahan ini menyulitkan koordinasi antar syarikah, dan berdampak pada pemisahan jemaah per kloter. Akibatnya, ada jemaah yang terpisah dari pasangan atau anggota keluarga lainnya. "Kami menyarankan ke depan agar koordinasi antara syarikah dan Kementerian
Agama lebih detail, agar
kejadian seperti ini tidak terulang," katanya.
Konsep murur dan mabit sudah dirancang dengan baik, namun pada pelaksanaan, banyak jemaah terpaksa
berjalan kaki ke Mina karena bus-bus yang dijadwalkan datang terlambat. Dadin menilai ini sebagai kekurangan teknis yang masih bisa
diperbaiki ke depannya. "Padahal semua sudah disiapkan, tapi tetap saja ada faktor-faktor lapangan yang tidak bisa dikendalikan sepenuhnya," ucapnya.
Kondisi ini justru menjadi pengalaman berharga bagi Dadin, terutama dalam menyatukan jemaah yang sempat terpisah dari keluarganya. Ia menyebut momen-momen tersebut mempererat tali
silaturahmi antarjemaah dan memperkuat rasa
persaudaraan. “Kita jadi sering berkunjung ke jemaah, dan dari situ muncul rasa kebersamaan yang kuat,” tuturnya.
Dadin mengaku ini adalah pengalaman pertamanya berhaji sekaligus mendapat
amanah sebagai ketua kloter. Ia berharap seluruh jemaah mendapatkan haji yang mabrur. “Tim kloter yang berjumlah delapan orang sudah seperti saudara, dan para jemaah pun merasa sudah menjadi keluarga besar,” ujarnya dengan haru.
Sebagai penutup, Dadin menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kelancaran ibadah haji kloter Jabar 7. Ia berharap ke depannya penyelenggaraan haji bisa terus ditingkatkan, terutama dalam hal manajemen akomodasi dan
transportasi, agar
pelayanan terhadap jemaah semakin maksimal dan nyaman.***