Kesepian di Kalangan Lansia: Kemandirian atau Kehampaan?
Editor
Desi Rossilawati
Minggu, 22 Desember 2024 | 00:00 WIB
VISI.NEWS | BANDUNG - Dalam konteks demografis Indonesia, kelompok lansia atau lanjut usia yang berusia di atas 60 tahun mengalami tantangan tersendiri. Salah satu problematik utama yang sering dihadapi adalah kesepian.
Banyak lansia yang tinggal sendiri setelah ditinggalkan pasangan hidup, sementara anak-anak mereka telah membangun keluarga masing-masing. Selain itu, tidak semua lansia memiliki anggota keluarga yang bersedia tinggal bersama, dan beberapa di antaranya berjuang dengan kenyataan bahwa keluarga lain tinggal di luar kota.
Namun, penelitian yang dilakukan oleh Konsultan Pakar Dr. Ir Lilis Heri Mis Cicih, M.Si, menunjukkan pandangan yang berbeda. Dalam diseminasi Policy Brief mengenai Dampak Kesepian dan Kesehatan Mental pada Lansia di Auditorium BKKBN, Lilis menjelaskan bahwa lansia yang tinggal sendiri tidak selalu berarti merasa kesepian. “Lansia yang tinggal sendiri itu belum tentu kesepian,” ujarnya, menunjukkan nuansa yang lebih positif dalam hidup mereka.
Menariknya, lansia yang tinggal bersama anggota keluarga juga bisa mengalami rasa kesepian. Lilis menegaskan bahwa tidak selalu menjalin kedekatan dengan keluarga besar dapat menghentikan rasa kesepian. “Kesepian itu tidak identik dengan yang tinggal sendiri,” tambahnya. Ia menjelaskan bahwa seringkali, kurangnya komunikasi yang baik antara generasi dalam satu rumah tangga menjadi penyebab utama lansia merasa terisolasi dan tidak memiliki teman untuk berbagi cerita.
Di sisi lain, bagi sebagian lansia yang tinggal sendiri, kehidupan mereka bisa jadi lebih bebas dan memberikan ruang untuk mengekspresikan diri. Hal ini menunjukkan bahwa mutu interaksi sosial dan komunikasi dalam rumah tangga jauh lebih penting daripada hanya sekadar tinggal bersama. Lilis menyoroti peningkatan jumlah lansia yang memilih tinggal sendiri, walaupun angkanya masih lebih rendah dibandingkan dengan lansia yang tinggal bersama pasangan atau anggota keluarga.
Dalam rangka memahami kompleksitas isu kesepian pada lansia, penting untuk menyadari bahwa interaksi sosial yang berkualitas jauh lebih menentukan daripada sekadar keberadaan fisik keluarga. Penelitian ini menggugah kita untuk mengevaluasi kembali bagaimana kita memperlakukan lansia di tengah keluarga dan masyarakat, serta mengedepankan pentingnya komunikasi yang baik agar mereka dapat menikmati hidup dengan penuh makna, terlepas dari pilihan relasi tempat tinggal mereka. @berlin
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!