Kemenperin Rencanakan Pengembangan Low Cost Green Car (LCGC) dengan Teknologi Hybrid, Tantang Industri Otomotif
Editor
Desi Rossilawati
Sabtu, 23 November 2024 | 07:00 WIB
VISI.NEWS | JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengumumkan rencana baru yang menggabungkan teknologi kendaraan ramah lingkungan dengan segmen Low Cost Green Car (LCGC) di Indonesia. Rencana ini mencakup penerapan mesin hybrid atau kendaraan listrik pada LCGC, yang dikenal dengan harga terjangkau dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang rendah, tetapi dengan tantangan tinggi terkait biaya teknologi hybrid.
Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (IMATAP) Kemenperin, Dodiet Prasetyo, menyatakan bahwa usulan ini telah disampaikan kepada para pabrikan mobil. Pihaknya mendorong industri otomotif untuk berkontribusi pada program transisi energi pemerintah dengan menyematkan teknologi elektrifikasi pada LCGC.
"Kami mendorong industri untuk bagaimana bisa meningkatkan sumbangsih mereka dalam mendukung program pemerintah dalam rangka program transisi energi. Hal yang mungkin bisa dicapai dalam waktu dekat adalah bagaimana mereka bisa menyematkan energi elektrifikasi di LCGC," ujar Dodiet, Jumat (22/11/2024).
Jika rencana ini terwujud, industri otomotif Indonesia diprediksi akan mengalami kemajuan signifikan, dengan dua tujuan besar yang dapat tercapai: mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak dan mempercepat pencapaian target dekarbonisasi. Saat ini, Kemenperin tengah melakukan studi internal untuk mengeksplorasi kemungkinan penerapan teknologi hybrid, baik strong hybrid maupun mild hybrid, pada LCGC yang sudah dikenal sebagai kendaraan hemat bahan bakar.
Namun, para pabrikan otomotif masih melakukan kajian mendalam untuk mengevaluasi feasibility proyek ini, dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti investasi, biaya, dan potensi pasar. Menurut Dodiet, rata-rata market share LCGC di Indonesia per tahun berkisar di angka 20%.
"Saat ini kami melakukan studi internal apakah LCGC ini bisa disematkan teknologi hibrida, baik strong hybrid maupun mild hybrid. Artinya kita berusaha meningkatkan yang sudah efisien menjadi lebih efisien. Tentu saja kami mendorong para pabrikan LCGC untuk bisa menyematkan teknologi hybrid di situ," sebut Dodiet.
"Tentunya ini sudah kita sampaikan ke industri. Posisi industri masih menganalisa apakah ini feasible karena banyak hal teknis yang mereka pertimbangkan, di samping mereka sudah investasi untuk model baru," kata Dodiet.
Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Kukuh Kumara, mengungkapkan bahwa meskipun teknologi hybrid bukan hal baru, tantangan utamanya adalah mengurangi biaya agar bisa terjangkau oleh pasar LCGC.
"Menarik, kita bisa ke sana kalau volume-nya besar. LCGC volume besar tapi teknologi berubah. Tidak bisa emisinya segitu saja, ya jalan keluarnya hybrid. Karena mobil ini bukan low cost lagi, dibandingkan yang lain juga emisinya sudah tinggi. Mau baru atau lama, kalau produknya bisa diminati konsumen, ya menarik," kata Kukuh.
Meskipun teknologi hybrid berpotensi menambah biaya produksi, jika berhasil diterapkan pada LCGC dengan harga terjangkau, hal ini dapat membuka peluang besar bagi perkembangan kendaraan ramah lingkungan di Indonesia. @ffr
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!