Kasus ISPA di Pontianak Naik 10 Persen Imbas Kabut Asap Karhutla

Desi Rossilawati
Selasa, 25 Agustus 2026 | 22:58 WIB
Bagikan
Kasus ISPA di Pontianak Naik 10 Persen Imbas Kabut Asap Karhutla

kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan./visi.news/cnn.

VISI.NEWS Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, mengalami peningkatan hingga 10 persen dalam sepekan terakhir. Salah satu indikasi yang berkaitan dengan peningkatan tersebut adalah munculnya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pontianak, Saptiko, mengatakan peningkatan kasus ISPA mulai terlihat sejak pekan sebelumnya.

“Berdasarkan data, memang mulai minggu kemarin sampai minggu ini ada peningkatan kasus ISPA, kira-kira 5-10 persen peningkatannya dari kasus harian,” kata Saptiko dalam keterangannya dikutip, Selasa (25/8/2026).

Meski demikian, Saptiko menegaskan tidak seluruh peningkatan kasus ISPA dapat dipastikan disebabkan oleh paparan kabut asap karhutla.

Menurutnya, ISPA dapat dipengaruhi berbagai faktor. Namun, kemunculan kabut asap menjadi salah satu indikasi yang berkaitan dengan peningkatan kasus tersebut.

“Kami tidak bisa membedakan apakah itu kasus ISPA karena asap atau bukan. ISPA itu banyak faktor lain yang menyebabkan. Tapi indikasi dengan adanya asap, ada peningkatan kasus ISPA,” tandasnya.

Saptiko mengingatkan masyarakat, terutama kelompok rentan, untuk membatasi aktivitas di luar rumah ketika kondisi kabut asap semakin pekat.

Kelompok rentan tersebut meliputi lanjut usia, ibu hamil, bayi, balita, serta masyarakat yang memiliki riwayat penyakit asma dan jantung.

Bagi masyarakat yang terpaksa beraktivitas di luar rumah, Saptiko mengingatkan agar menggunakan masker untuk mengurangi paparan partikel dari udara yang tercemar asap.

Selain ISPA, masyarakat yang memiliki riwayat asma juga diminta meningkatkan kewaspadaan. Kabut asap dapat memicu munculnya serangan asma pada penderita.

“Biasanya asma. Kasus asma meningkat karena pada orang yang punya asma, asap mencetuskan timbulnya serangan pada mereka,” katanya.

Selain dampak kabut asap terhadap kesehatan pernapasan, Dinkes Kota Pontianak juga memantau kondisi air yang digunakan masyarakat selama musim kemarau.

Saptiko mengatakan sejauh ini belum terlihat adanya peningkatan penyakit yang berkaitan dengan kualitas air. Menurutnya, sebagian besar masyarakat Kota Pontianak menggunakan air galon yang kebersihan dan kesehatannya rutin dipantau.

“Kalau saya lihat, untuk penyakit terkait kualitas air tidak ada masalah, tidak ada kenaikan. Masyarakat Kota Pontianak sebagian besar menggunakan galon,” ucap Saptiko.

Dinkes Kota Pontianak juga melakukan pemantauan terhadap usaha pengisian ulang air galon untuk memastikan aspek kebersihan dan kesehatan produk.

Namun, masyarakat yang menggunakan air hujan untuk kebutuhan sehari-hari diminta lebih berhati-hati. Kondisi hujan pada musim kemarau cenderung tidak menentu. Air hujan pertama juga berpotensi membawa kotoran dari udara maupun permukaan tempat penampungan.

“Sebaiknya, waktu hujan yang pertama itu jangan digunakan karena masih kotor,” imbuhnya.

Sementara terkait penggunaan air payau dan air asin untuk kebutuhan tertentu, Saptiko mengatakan kondisi tersebut tidak secara langsung menimbulkan masalah kesehatan pada kulit.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.