Jumlah DBD Januari-Juli 2022, Kusnadi : Ini Penjelasannya...
VISI.NEWS |BANDUNG - Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit yang patut diwaspadai, khususnya di tengah kondisi cuaca tak menentu seperti saat ini.
Di Kota Bandung, diketahui ada sebanyak 3.572 kasus DBD sepanjang Januari-Juli 2022, dan 7 diantaranya meninggal dunia, kasus DBD ini rata-rata menyerang anak usia 1-9 tahun.
"Data tersebut saya dengar dari Dinkes Kota Bandung, cuaca yang tidak menentu atau pancaroba membuat angka DBD tinggi, namun jika dibanding tahun sebelunya trend nya menurun," katanya.
Selain itu, kasus DBD di Kabupaten Bandung Barat (KBB) juga menjadi ancaman bagi masyarakat, pasalnya sejumlah wilayah kecamatan di KBB termasuk daerah endemis yang setiap tahunnya selalu muncul kasus DBD.
"DBD selalu muncul setiap tahun dan jadi ancaman, periode Januari-Juni 2022 tercatat ada sepuluh warga meninggal dunia akibat DBD, dan ini sesuai catatan Dinkes KBB," ucap Haji Kusnadi.
Kepada VISI.NEWS, berdasarkan data Dinkes KBB yang terekap menyebutkan ada sebanyak 957 warga KBB terjangkit DBD, dan di bulan Juni, setidaknya ada 134 warga yang terjangkit, tiga di antaranya meninggal dunia.
"Berdasarkan klasifikasi, kecamatan yang muncul adalah Kecamatan Padalarang, Lembang, Batujajar, dan Cikalongwetan, empat kecamatan ini, termasuk daerah endemis DBD di wilayah KBB," ungkapnya.
Selain itu, hingga 17 Juli 2020, kasus DBD di Kabupaten Bandung mencapai 935 kasus, hal tersebut lebih rendah dari bulan yang sama di tahun sebelumnya yang mencapai 2.686 kasus.
"Terdapat tiga daerah yang masuk pada zona merah kasus DBD di Kabupaten Bandung, antara lain Kecamatan Majalaya, Paseh, Ibun, Pameungpeuk, Baleendah, Bojongsoang, Ciparay, Arjasari, Banjaran dan Cimaung," jelasnya.
Selain itu, di Kabupaten Bogor dan Sumedang terdapat 347 kasus, dab Kabupaten Bogor juga menjadi daerah dengan kasus DBD tertinggi, seperti yang terjadi saat ini di Kota Bandung.
"Di Kabupaten Bogor tercatat 2.203 kasus DBD, intinya adalah harus giat berkegiatan pemberantasan sarang nyamuknya (PSN) agar lebih optimal," terangnya.
PSN ini terdiri dari beberapa upaya, seperti 3 M, menguras, menutup, dan memanfaatkan barang daur ulang. Kemudian, G1r1j (gerakan satu rumah, satu jumantik).
"Diharapkan setiap rumah ada anggota yang bertugas menjadi pemantau jentik. Lalu, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) juga harus selalu digalakkan," pungksnya. @eko
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!