Ini Akibatnya Kalau Selat Hormuz Ditutup oleh Iran
VISI.NEWS | TEHERAN - Selat Hormuz adalah jalur laut sempit yang sangat strategis, menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Oman, bagian dari Samudra Hindia. Di bagian utara selat ini terdapat Iran, sedangkan bagian selatannya berbatasan langsung dengan Semenanjung Musandam milik Oman dan Uni Emirat Arab. Letaknya yang vital menjadikannya titik krusial bagi perdagangan energi global.
Dimensi dan Karakteristik Fisik
Selat ini memiliki panjang sekitar 167 km dan pada titik tersempitnya hanya selebar 33 km. Meski tampak cukup lebar, jalur pelayaran internasional di dalamnya sangat terbatas: hanya 3 km untuk masing-masing arah masuk dan keluar. Dengan lalu lintas kapal tanker yang padat, kondisi ini membuat navigasi di Selat Hormuz sangat sensitif terhadap gangguan.
Kedalaman dan Navigasi
Kedalaman perairan di rute pelayaran utama Selat Hormuz mencapai lebih dari 100 meter, bahkan di beberapa titik bisa mencapai hingga 650 kaki atau sekitar 200 meter. Kedalaman ini memungkinkan dilalui oleh kapal supertanker berukuran besar, namun hanya saat kondisi damai. Dalam situasi genting, zona tersebut menjadi wilayah rawan secara strategis.
Fungsi sebagai Choke Point Energi Global
Sekitar 20 juta barel minyak mentah melewati Selat Hormuz setiap harinya, yang berarti hampir 20% dari konsumsi minyak dunia. Selain itu, sepertiga dari perdagangan gas alam cair (LNG) global juga melintasi jalur ini. Karena itu, selat ini disebut sebagai "choke point" energi paling krusial di dunia.
Distribusi Tujuan Ekspor
Sebagian besar ekspor minyak dari Teluk—sekitar 84%—ditujukan ke negara-negara Asia seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan. Sementara itu, Amerika Serikat hanya mengimpor sekitar 0,5 juta barel per hari dari jalur ini, setara dengan 7% dari total impornya atau 2% dari konsumsi domestiknya.
Infrastruktur Alternatif untuk Menghindari Selat
Sebagai bentuk mitigasi risiko, beberapa negara Teluk telah membangun pipa alternatif. Saudi Aramco mengoperasikan pipa East–West menuju Laut Merah dengan kapasitas hingga 7 juta barel per hari. Uni Emirat Arab juga memiliki pipa ke pelabuhan Fujairah, sementara Iran memiliki pipa Goreh–Jask, meski kapasitasnya masih terbatas.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!