IHSG Menguat Diwarnai Optimisme AI dan Dinamika Global

Desi Rossilawati
Senin, 13 Juli 2026 | 10:53 WIB
Bagikan
IHSG Menguat Diwarnai Optimisme AI dan Dinamika Global

Ilustrasi./visi.news/ist.

VISI.NEWS - Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG membuka perdagangan Senin dengan penguatan di tengah kombinasi sentimen global dan domestik yang menjadi perhatian investor. Kenaikan indeks tidak hanya dipengaruhi optimisme terhadap sektor kecerdasan buatan atau AI, tetapi juga dipicu meredanya kekhawatiran atas ketegangan geopolitik serta ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG naik 10,36 poin atau 0,17 persen ke level 5.934. Sementara itu, Indeks LQ45 juga bergerak positif dengan kenaikan tipis 0,01 persen ke posisi 589,28.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menilai peluang penguatan teknikal masih terbuka selama IHSG mampu bertahan di atas area 5.900 hingga 5.882. Menurutnya, indeks berpotensi menguji kisaran 5.948 sampai 6.000 dan berlanjut menuju 6.100 hingga 6.220 apabila mampu menembus batas atas channel. Namun, apabila kembali turun di bawah level 5.900, IHSG berisiko menguji area support pada kisaran 5.839 hingga 5.805.

Dari pasar global, perhatian investor kembali tertuju pada prospek industri AI. Optimisme meningkat setelah saham SK Hynix mencatat debut kuat di bursa Nasdaq Amerika Serikat dengan kenaikan 13 persen dibandingkan harga penawaran perdana. Momentum tersebut muncul menjelang musim laporan keuangan kuartal kedua 2026, ketika konsensus pasar memperkirakan laba emiten dalam indeks S&P 500 tumbuh sekitar 24 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, terutama ditopang sektor teknologi dan AI.

Di sisi lain, faktor geopolitik masih menjadi variabel yang diperhitungkan. Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai kesiapan melanjutkan pembicaraan dengan Iran setelah berakhirnya gencatan senjata pada Juni 2026 dinilai memberikan harapan terhadap meredanya ketegangan kawasan. Penurunan harga minyak juga membantu mengurangi kekhawatiran pasar terhadap potensi tekanan inflasi global.

Fokus investor berikutnya mengarah pada rilis inflasi Amerika Serikat periode Juni 2026 serta kesaksian Gubernur The Fed Kevin Warsh di hadapan House Committee on Financial Services. Kedua agenda tersebut dipandang akan memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat dalam beberapa bulan mendatang.

Dari dalam negeri, pasar juga mencermati perkembangan fiskal. Realisasi restitusi pajak pada semester pertama 2026 tercatat Rp171,2 triliun atau turun 31,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Perlambatan ini dinilai sejumlah pengamat sebagai indikasi penundaan pencairan restitusi guna menjaga arus kas pemerintah. Meski memberikan ruang likuiditas fiskal dalam jangka pendek, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi likuiditas dunia usaha apabila pencairan terus tertunda.

Sementara itu, pemerintah menaikkan outlook pembiayaan APBN 2026 menjadi Rp734,3 triliun dari target awal Rp689,1 triliun. Hingga semester pertama, realisasinya telah mencapai Rp452 triliun atau sekitar 65,6 persen dari pagu awal sebagai bagian dari strategi pendanaan lebih awal menghadapi ketidakpastian pasar. Dengan kondisi pasar obligasi yang relatif stabil serta masih tersedianya Saldo Anggaran Lebih sekitar Rp255 triliun, pemerintah dinilai memiliki ruang untuk mengurangi intensitas penerbitan utang pada paruh kedua tahun ini.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.