Iduladha dan Luka Kemanusiaan Dunia yang Menganga
ilustrasi/visi.news/Ist.
VISI.NEWS | JAKARTA - Iduladha 1447 H hadir di tengah dunia yang masih dipenuhi luka kemanusiaan. Di Gaza, Sudan, dan sejumlah wilayah konflik lain, banyak keluarga tidak lagi menyambut hari raya dengan kegembiraan. Mereka justru berjuang bertahan hidup di tengah reruntuhan, kelaparan, dan ketidakpastian yang terus membayangi. Kamis (28/5/2026)
Anak anak kehilangan rumah bahkan sebelum memahami arti masa depan. Hari demi hari dilalui dengan menghitung sisa makanan dan harapan yang tersisa untuk bertahan hingga esok. Situasi itu menjadi cermin bagi dunia modern yang berhasil melahirkan kemajuan teknologi luar biasa, tetapi gagal menjaga nurani kemanusiaannya.
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ahmad Tholabi Kharlie, menilai Iduladha seharusnya tidak berhenti pada simbol penyembelihan hewan kurban semata. Menurutnya, kisah Nabi Ibrahim mengajarkan keberanian melepaskan ego dan kepentingan diri demi nilai kemanusiaan yang lebih tinggi.
Ia menjelaskan, dunia saat ini menghadapi krisis besar karena manusia semakin sulit berkorban untuk sesama. Ambisi politik memperpanjang perang, kerakusan ekonomi memperlebar ketimpangan, sementara penderitaan manusia perlahan dianggap sebagai hal biasa.
Dalam suasana seperti itu, Iduladha menjadi pengingat bahwa inti keberagamaan bukan hanya kesalehan pribadi, melainkan keberpihakan kepada mereka yang lemah dan menderita. Kurban mengajarkan solidaritas sosial, kepedulian, dan keberanian menempatkan nilai moral di atas kepentingan pribadi.
“Tragedi terbesar dunia modern adalah ketika manusia mulai terbiasa melihat penderitaan tanpa lagi merasa terganggu secara moral,” tulis Ahmad Tholabi Kharlie.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!