"Gempa" Mengguncang Cingised Kota Bandung
Simulasi gempa bumi di Rumah Susun Sewa Sederhana (Rusunawa) Cingised, Kelurahan Cisaranten Kulon, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung. /visi.news/ist
VISI.NEWS — Suara teriakan pecah di antara deretan bangunan Rumah Susun Sewa Sederhana (Rusunawa) Cingised, Kelurahan Cisaranten Kulon, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung. Beberapa warga bergegas keluar dari unit hunian. Ada yang berusaha melindungi kepala, ada yang menggandeng anak-anak, sementara lainnya mencari jalan menuju tempat yang dianggap paling aman.
Situasi berubah dalam hitungan detik.
Gempa bumi seolah mengguncang kawasan rusunawa pada Minggu, 6 September 2026. Warga yang semula menjalani aktivitas seperti biasa mendadak menghadapi situasi darurat. Kepanikan muncul, tetapi di tengah suasana itu sejumlah warga mulai menjalankan langkah-langkah penyelamatan diri yang sebelumnya mereka pelajari.
Salah seorang warga berteriak mengingatkan penghuni lain agar tidak menggunakan lift. Sebagian penghuni segera bergerak menuju jalur evakuasi. Mereka berusaha keluar dari bangunan secara tertib, sambil memastikan anggota keluarga dan tetangga di sekitar mereka tidak tertinggal.
Di lantai-lantai rusun, kepanikan bercampur dengan kesadaran untuk menyelamatkan diri. Warga diarahkan untuk tidak berdesakan dan segera menuju titik kumpul setelah kondisi memungkinkan.
Namun, gempa kali ini bukan bencana sungguhan.
Seluruh rangkaian tersebut merupakan simulasi penanganan bencana yang digelar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandung di Kawasan Rusunawa Cingised. Simulasi itu sengaja dibuat menyerupai kondisi darurat agar warga tidak hanya mengetahui teori, tetapi juga terbiasa mengambil keputusan ketika bencana benar-benar terjadi.
Kegiatan tersebut bahkan dikemas dalam pembuatan film pendek bersama warga dengan judul "Ada Apa di Cingised". Kamera merekam berbagai adegan evakuasi, sementara warga menjadi bagian penting dari cerita sekaligus pelaku langsung dalam latihan kesiapsiagaan bencana.
Bagi penghuni rusun, pengalaman tersebut menghadirkan gambaran tentang bagaimana keadaan dapat berubah secara tiba-tiba ketika gempa terjadi.
Dalam kondisi nyata, beberapa detik pertama setelah guncangan menjadi sangat menentukan. Warga harus mampu mengenali situasi, melindungi diri, kemudian menentukan langkah evakuasi tanpa memperburuk risiko.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Bandung, Didi Ruswandi, mengatakan simulasi tersebut dirancang untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menyelamatkan diri ketika bencana datang.
"Makin banyak warga Bandung yang punya kapasitas menyelamatkan diri, itu makin baik. Karena 95 persen orang selamat dari bencana, itu adalah kapasitas masyarakatnya," ujar Didi.
Pernyataan itu menjadi salah satu pesan utama dalam simulasi. Penanganan bencana tidak semata-mata bergantung pada petugas yang datang setelah kejadian. Dalam situasi darurat, masyarakat merupakan pihak pertama yang berada di lokasi dan harus mampu mengambil tindakan penyelamatan sebelum bantuan tiba.
Karena itu, warga Rusunawa Cingised tidak ditempatkan sekadar sebagai penonton. Mereka menjadi bagian dari latihan, mengikuti rangkaian evakuasi mandiri, memahami jalur keluar bangunan, mengenali titik kumpul, dan belajar bagaimana menghadapi kondisi darurat secara lebih terorganisasi.
Ketika skenario gempa dimulai, setiap penghuni dituntut untuk mengenali lingkungan terdekatnya. Tangga menjadi bagian penting dalam proses evakuasi. Warga diarahkan meninggalkan bangunan melalui jalur yang telah ditentukan dan berkumpul di lokasi aman.
Bagi penghuni bangunan bertingkat, pemahaman semacam ini menjadi penting. Ketika gempa terjadi, kepanikan dapat membuat seseorang mengambil keputusan yang justru meningkatkan risiko. Berlari tanpa arah, kembali mengambil barang, atau menggunakan jalur yang tidak aman dapat menghambat proses penyelamatan.
Simulasi memberikan kesempatan kepada warga untuk mengalami situasi tersebut tanpa harus menunggu bencana sungguhan.
Di titik kumpul, suasana perlahan berubah. Warga yang sebelumnya berpencar mulai berkumpul. Petugas dan tim pendamping memastikan proses evakuasi berlangsung sesuai skenario. Mereka juga mengamati bagaimana warga merespons keadaan darurat.
Kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur. Pengelola rusun melalui UPT Rusunawa ikut mendukung pelaksanaan simulasi. UPT Puskesmas Rusunawa dan mahasiswa STIKes Dharma Husada Bandung juga terlibat dalam pendampingan, bersama sejumlah tim pendukung lainnya.
Kehadiran tenaga kesehatan menjadi bagian penting karena bencana tidak hanya menyangkut proses evakuasi. Setelah keluar dari bangunan, warga mungkin menghadapi korban yang mengalami luka, kepanikan, atau membutuhkan pertolongan medis.
Mahasiswa STIKes Dharma Husada Bandung ikut mendampingi rangkaian kegiatan tersebut. Bagi mereka, simulasi menjadi pengalaman untuk memahami bahwa pengetahuan mengenai kebencanaan harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata.
Sabila Putri, salah seorang mahasiswa yang terlibat, menilai kegiatan tersebut memberikan tambahan pengetahuan dan wawasan kepada masyarakat.
"Menambah ilmu dan juga wawasan untuk warga-warga Bandung khususnya," ujarnya.
Mahasiswa lainnya, Muhammad Dafi Firmansyah, melihat simulasi sebagai kegiatan yang tidak hanya menarik, tetapi juga memiliki manfaat langsung. Warga, menurutnya, menjadi lebih mengetahui jalur evakuasi dan titik kumpul yang harus dituju ketika bencana terjadi.
"Menambah hal positif bagi warga, biar semua pada tahu," katanya.
Pemilihan Rusunawa Cingised sebagai lokasi simulasi bukan tanpa alasan. BPBD melihat adanya kesamaan kepentingan dengan pengelola rusun. Pengelola memiliki kewajiban untuk membekali warga dengan pengetahuan keselamatan, sementara BPBD membutuhkan mitra masyarakat yang bersedia terlibat dalam upaya peningkatan kesiapsiagaan.
"Jadi ini benar-benar bertemu di dalam satu simpul," kata Didi.
Bagi BPBD, kawasan hunian seperti rusun memiliki tantangan tersendiri dalam penanganan keadaan darurat. Banyak orang tinggal dalam satu kawasan dengan bangunan bertingkat dan ruang bersama. Ketika keadaan darurat terjadi, proses penyelamatan membutuhkan koordinasi dan pengetahuan yang dimiliki penghuni sendiri.
Didi menjelaskan terdapat dua faktor dominan yang menentukan keselamatan masyarakat ketika bencana terjadi. Faktor pertama adalah kerentanan lingkungan, terutama kualitas struktur bangunan atau permukiman. Faktor kedua adalah kapasitas masyarakat dalam menghadapi keadaan darurat.
Keduanya saling berkaitan.
Bangunan yang memiliki tingkat kerentanan tertentu membutuhkan masyarakat yang lebih siap menghadapi risiko. Sebaliknya, kesiapan masyarakat juga perlu didukung lingkungan dan bangunan yang memenuhi aspek keselamatan.
Itulah sebabnya latihan tidak berhenti pada pengetahuan mengenai bencana. Warga juga perlu mengetahui apa yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah kejadian.
Dalam skenario gempa di Cingised, misalnya, keselamatan dimulai dari kemampuan warga melindungi diri ketika guncangan terjadi. Setelah situasi memungkinkan, warga harus mengetahui jalur evakuasi, keluar dari bangunan tanpa menciptakan kepanikan, kemudian menuju titik kumpul yang telah ditentukan.
Latihan seperti ini juga menjadi ruang evaluasi. Kesalahan yang ditemukan selama simulasi dapat menjadi bahan perbaikan sebelum bencana sungguhan terjadi.
Bagi warga, perbedaan antara sekadar mengetahui lokasi titik kumpul dan benar-benar pernah berjalan menuju titik tersebut dapat sangat berarti. Ketika kepanikan muncul, seseorang cenderung mengandalkan kebiasaan. Karena itu, latihan berulang dapat membantu membentuk respons yang lebih cepat dan terarah.
Selain simulasi gempa, BPBD Kota Bandung juga tengah memberikan perhatian terhadap ancaman lain yang dapat memengaruhi masyarakat, termasuk potensi dampak abu vulkanik. Didi mengimbau masyarakat menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar ruangan dan menghindari keluar rumah tanpa kepentingan mendesak ketika abu vulkanik masih berdampak.
Pesan tersebut memperlihatkan bahwa kesiapsiagaan bencana tidak hanya berbicara tentang satu jenis ancaman. Kota Bandung dan masyarakatnya harus siap menghadapi berbagai kemungkinan bencana dengan karakteristik yang berbeda.
Namun, dari seluruh rangkaian kegiatan di Cingised, satu hal menjadi jelas: kesiapan tidak bisa dibangun ketika bencana sudah terjadi.
Ketika tanah berguncang, waktu untuk berpikir panjang hampir tidak ada. Warga harus segera mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan yang sudah dimiliki. Mereka harus tahu bagaimana melindungi diri, ke mana harus pergi, siapa yang membutuhkan pertolongan, dan di mana harus berkumpul.
Karena itulah BPBD berharap kegiatan serupa dapat dilakukan di kawasan lain di Kota Bandung. Semakin banyak warga yang terlatih, semakin besar peluang masyarakat untuk menyelamatkan diri ketika menghadapi bencana.
Simulasi di Rusunawa Cingised pada akhirnya bukan sekadar adegan kepanikan yang direkam kamera untuk film pendek "Ada Apa di Cingised". Di balik suara teriakan, langkah kaki yang bergegas, dan warga yang berkumpul di titik aman, terdapat pesan yang jauh lebih besar.
Bencana tidak pernah menunggu masyarakat siap.
Tetapi masyarakat bisa memilih untuk mempersiapkan diri sebelum bencana datang.
Dari Cingised, pesan itu disampaikan melalui latihan sederhana: mengenali risiko, memahami jalur evakuasi, mengetahui titik kumpul, membantu sesama, dan tidak membiarkan kepanikan mengambil alih.
Harapannya, ketika suatu hari guncangan bukan lagi bagian dari skenario, warga Bandung tidak lagi bertanya harus berbuat apa.
Mereka sudah tahu.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!