Filipina Buka Bulan Tekfin ASEAN
VISI.NEWS | MANILA - Menteri Perdagangan dan Perindustrian Filipina (Department of Trade and Industry/DTI) Alfredo Pascual memimpin acara peresmian Philippine FinTech Festival (PFF) dan SME-Financial Empowerment (SFE) Programme bersama Monetary Authority of Singapore (MAS). Kedua inisiatif ini berlangsung di tengah perkembangan pesat industri Teknologi Finansial (Tekfin) Filipina yang berhasil mencatat rekor investasi senilai $342 juta pada Semester I-2021.
Memimpin acara peresmian PFF dan SME Programme (dari atas, lalu sesuai arah jarum jam, dari kiri ke kanan) DTI Secretary Alfredo Pascual; DICT Undersecretary David L. Almirol Jr.; Chief Fintech Officer, MAS, Sopnendu Mohanty; Country Manager, IFC Philippines, Jean-Marc Arbogast; Convenor, Digital Pilipinas, Amor Maclang; dan Resident Representative, UNDP, Selva Ramachandran. Memimpin acara peresmian PFF dan SME Programme (dari atas, lalu sesuai arah jarum jam, dari kiri ke kanan) DTI Secretary Alfredo Pascual; DICT Undersecretary David L. Almirol Jr.; Chief Fintech Officer, MAS, Sopnendu Mohanty; Country Manager, IFC Philippines, Jean-Marc Arbogast; Convenor, Digital Pilipinas, Amor Maclang; dan Resident Representative, UNDP, Selva Ramachandran.
PPF akan membuka Bulan Tekfin ASEAN pada 17 Oktober mendatang, disusul Kamboja pada 24 Oktober, dan Thailand pada 27 Oktober, hingga menuju puncak acara tahunan Singapore FinTech Festival (SFF) pada November. PFF adalah mitra di ajang World FinTech Festival yang menampilkan sederet pameran tentang pasar lokal, ulasan industri secara mendalam, dan sesi memperluas jejaring yang digelar lewat kolaborasi dengan jaringan mitra global yang tepercaya menjelang SFF.
"Teknologi tengah mengubah berbagai industri dan UKM sehingga komunitas Tekfin perlu memperluas skalanya," ujar Menteri Pascual.
Digitalisasi ASEAN SFE Programme mengangkat berbagai manfaat dari pemberdayaan UKM secara finansial, seperti yang dinilai oleh Menteri Pascual sebagai "Perusahaan yang berorientasi digital. UKM ini mempekerjakan 63% dari total angkatan kerja, serta berkontribusi sebesar 40% terhadap Produk Domestik Bruto. Meski demikian, kalangan UKM ini belum mendapat pembiayaan yang layak, serta membutuhkan teknologi agar produk dan jasanya dikenal dan dapat terjual."
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!