Prabowo ke Lokasi Gempa NTT, Pastikan Penanganan Cepat dan Terkoordinasi 26 Aug 2026 Melchias Markus Mekeng Ingatkan Risiko Salah Sasaran Pembatasan Pertalite Berbasis Desil 26 Aug 2026 Bank Mandiri Sampaikan Permintaan Maaf, Rekening Botok Dibuka 26 Aug 2026 TPA Cioray Tasikmalaya Terbakar, Lima Hektare Terdampak 26 Aug 2026 Satu dari Tiga Korban Pantai Karangpapak Ditemukan Meninggal 26 Aug 2026 Hadiri Pesta Biru, Farhan, "Kalau lihat dari pemain, optimis pisan" 26 Aug 2026 UAJY Raih Hibah United Board 2026, Bersama AMSI Perkuat Jurnalisme Biodiversitas 26 Aug 2026 7 Tempat Makan Enak Dekat Stasiun Padalarang 26 Aug 2026 Pendakian Gunung Lincing Malang Ditutup akibat Kebakaran Hutan 26 Aug 2026 Pendaftaran TKA SMA 2026 Dibuka hingga 27 September, Ini Syaratnya 26 Aug 2026 Prabowo ke Lokasi Gempa NTT, Pastikan Penanganan Cepat dan Terkoordinasi 26 Aug 2026 Melchias Markus Mekeng Ingatkan Risiko Salah Sasaran Pembatasan Pertalite Berbasis Desil 26 Aug 2026 Bank Mandiri Sampaikan Permintaan Maaf, Rekening Botok Dibuka 26 Aug 2026 TPA Cioray Tasikmalaya Terbakar, Lima Hektare Terdampak 26 Aug 2026 Satu dari Tiga Korban Pantai Karangpapak Ditemukan Meninggal 26 Aug 2026 Hadiri Pesta Biru, Farhan, "Kalau lihat dari pemain, optimis pisan" 26 Aug 2026 UAJY Raih Hibah United Board 2026, Bersama AMSI Perkuat Jurnalisme Biodiversitas 26 Aug 2026 7 Tempat Makan Enak Dekat Stasiun Padalarang 26 Aug 2026 Pendakian Gunung Lincing Malang Ditutup akibat Kebakaran Hutan 26 Aug 2026 Pendaftaran TKA SMA 2026 Dibuka hingga 27 September, Ini Syaratnya 26 Aug 2026

Evakuasi Gempa Myanmar Terkendala, Junta Militer Batasi Masuknya Alat Berat

Desi Rossilawati
Selasa, 8 April 2025 | 21:45 WIB
Bagikan
Evakuasi Gempa Myanmar Terkendala, Junta Militer Batasi Masuknya Alat Berat
VISI.NEWS | MYANMAR - Proses penyelamatan korban gempa dahsyat di Sagaing, Myanmar, mengalami hambatan serius akibat tindakan junta militer yang membatasi akses alat berat ke wilayah terdampak. Menurut laporan warga setempat, alat-alat seperti backhoe dilarang masuk, sehingga proses pencarian korban harus dilakukan secara manual oleh sukarelawan dan warga sipil. Situasi diperparah dengan kewajiban kelompok relawan untuk mendapatkan izin resmi dari junta sebelum bisa melakukan penyelamatan, termasuk menginformasikan alamat gedung yang rusak terlebih dahulu. Bahkan, dalam beberapa kasus, pasukan militer memblokir relawan yang mencoba menuju Sagaing dari Mandalay dua hari setelah gempa terjadi. Hanya pengiriman makanan dan air yang diizinkan melintas. Militer juga sering kali mencampuri bantuan warga, memaksa mereka untuk menghentikan aktivitas tanpa surat persetujuan resmi. Akibatnya, hingga kini masih banyak korban yang belum ditemukan, terutama di wilayah yang jauh dari pusat kota. Bangunan yang berada di pinggiran atau pedesaan masih belum tersentuh oleh upaya pembersihan dan evakuasi. Wakil Ketua Junta, Jenderal Soe Win, menyatakan bahwa seluruh organisasi penyelamat harus mematuhi pedoman militer dan bekerja sama penuh dengan rezim. Ia sempat mengunjungi Sagaing pada 6 April untuk melihat langsung kerusakan pasca-gempa. Sagaing merupakan salah satu wilayah konflik di Myanmar, di mana daerah pedesaan banyak dikuasai kelompok antirezim, sementara militer hanya mengendalikan kawasan kota. Gempa bumi yang mengguncang Myanmar pada 28 Maret telah menewaskan lebih dari 3.500 orang, dengan ratusan lainnya masih dinyatakan hilang. @ffr

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.