Evakuasi Gempa Myanmar Terkendala, Junta Militer Batasi Masuknya Alat Berat
Editor
Desi Rossilawati
Selasa, 8 April 2025 | 21:45 WIB
VISI.NEWS | MYANMAR - Proses penyelamatan korban gempa dahsyat di Sagaing, Myanmar, mengalami hambatan serius akibat tindakan junta militer yang membatasi akses alat berat ke wilayah terdampak. Menurut laporan warga setempat, alat-alat seperti backhoe dilarang masuk, sehingga proses pencarian korban harus dilakukan secara manual oleh sukarelawan dan warga sipil.
Situasi diperparah dengan kewajiban kelompok relawan untuk mendapatkan izin resmi dari junta sebelum bisa melakukan penyelamatan, termasuk menginformasikan alamat gedung yang rusak terlebih dahulu.
Bahkan, dalam beberapa kasus, pasukan militer memblokir relawan yang mencoba menuju Sagaing dari Mandalay dua hari setelah gempa terjadi. Hanya pengiriman makanan dan air yang diizinkan melintas. Militer juga sering kali mencampuri bantuan warga, memaksa mereka untuk menghentikan aktivitas tanpa surat persetujuan resmi.
Akibatnya, hingga kini masih banyak korban yang belum ditemukan, terutama di wilayah yang jauh dari pusat kota. Bangunan yang berada di pinggiran atau pedesaan masih belum tersentuh oleh upaya pembersihan dan evakuasi.
Wakil Ketua Junta, Jenderal Soe Win, menyatakan bahwa seluruh organisasi penyelamat harus mematuhi pedoman militer dan bekerja sama penuh dengan rezim. Ia sempat mengunjungi Sagaing pada 6 April untuk melihat langsung kerusakan pasca-gempa.
Sagaing merupakan salah satu wilayah konflik di Myanmar, di mana daerah pedesaan banyak dikuasai kelompok antirezim, sementara militer hanya mengendalikan kawasan kota. Gempa bumi yang mengguncang Myanmar pada 28 Maret telah menewaskan lebih dari 3.500 orang, dengan ratusan lainnya masih dinyatakan hilang. @ffr
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!