Dua Langkah BI dan Pemerintah Perkuat Nilai Rupiah

Desi Rossilawati
Sabtu, 6 Juni 2026 | 11:59 WIB
Bagikan
Dua Langkah BI dan Pemerintah Perkuat Nilai Rupiah

Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad (kiri), Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (tengah) dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (kanan) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Sabtu (6/6/2026).

VISI.NEWS | BANDUNG - Upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah kembali menjadi fokus utama otoritas ekonomi nasional. Di tengah dinamika global yang masih memengaruhi arus modal dan pergerakan mata uang berbagai negara, Bank Indonesia dan pemerintah sepakat memperkuat sinergi kebijakan guna menjaga rupiah tetap stabil terhadap dolar Amerika Serikat.

Kesepakatan tersebut disampaikan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam pertemuan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Sabtu (6/6/2026). Keduanya menegaskan bahwa koordinasi antara kebijakan moneter dan fiskal akan terus diperkuat agar mampu memberikan dampak yang lebih besar terhadap perekonomian nasional sekaligus meningkatkan kepercayaan pasar.

Dalam konteks pengelolaan ekonomi makro, sinergi fiskal dan moneter menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas pasar keuangan. Ketika tekanan global meningkat, baik akibat perubahan suku bunga internasional maupun pergeseran preferensi investor, koordinasi yang kuat antara pemerintah dan bank sentral dinilai menjadi instrumen penting untuk meredam gejolak.

Perry menjelaskan bahwa fokus koordinasi saat ini diarahkan pada upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui dua langkah utama yang telah disepakati bersama.

"Penguatan koordinasi fiskal-moneter itu terus kita lakukan dan saat ini memang difokuskan bagaimana fiskal dan moneter seirama, saling mendukung, saling memperkuat dengan kewenangan masing-masing untuk memperkuat upaya-upaya bersama melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah," kata Perry di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta dikutip, Sabtu (6/6/2026).

Langkah pertama adalah meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik. Strategi ini muncul sebagai respons terhadap kondisi global yang menyebabkan sebagian modal asing keluar dari pasar keuangan Indonesia.

Menurut Perry, kenaikan suku bunga di luar negeri membuat investor memiliki lebih banyak pilihan investasi dengan tingkat imbal hasil yang menarik. Dampaknya, arus modal keluar terjadi pada sejumlah instrumen keuangan dalam negeri, termasuk saham, Surat Berharga Negara (SBN), serta sebagian investasi pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.