Dokter Ungkap Pentingnya Deteksi Dini Diabetes Melitus Tipe 1 pada Anak
VISI.NEWS | BANDUNG - Kasus diabetes melitus (DM) tipe 1 pada anak di Indonesia menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun. Penyakit yang berkaitan dengan kekurangan produksi insulin ini kerap ditemukan pada usia anak-anak hingga remaja.
Menurut Unit Kerja Koordinasi Endokrinologi Ikatan Dokter Anak Indonesia, dr. Nur Rochmah, Sp.A, Subsp.Endo(K) menyatakan bahwa anak bisa terkena diabetes melitus atau kencing manis, dengan diabetes melitus tipe 1 yang sering ditemui."Anak bisa terkena diabetes melitus atau kencing manis, yang sering dijumpai adalah dengan DM tipe 1, di mana terjadi kekurangan insulin," kata dr. Nur Rochmah, Rabu (30/4/2025).
DM tipe 1 terjadi ketika pankreas tidak mampu memproduksi insulin atau hanya menghasilkan dalam jumlah sangat sedikit.
Padahal, insulin dibutuhkan untuk membantu gula darah masuk ke dalam sel tubuh sebagai sumber energi.
Tanpa insulin, kadar gula darah akan menumpuk dalam aliran darah dan menimbulkan berbagai gangguan kesehatan.
Menurut Nur, penyakit ini lebih sering terjadi pada usia muda.
"Yang sering dijumpai pada anak-anak adalah DM tipe 1, ini terjadi kerusakan pada pabrik insulin. Maka, anak-anak akan perlu memakai insulin untuk seumur hidupnya," ujarnya.
Gejala klinis DM tipe 1 pada anak dapat dikenali sejak dini, antara lain sering merasa lapar dan haus berlebihan, serta penurunan berat badan yang signifikan.
"Pada kondisi berat akan datang ketoasidosis diabetikum (DKA), yaitu anaknya mual, muntah, datang dengan kurang kesadaran dan sesak," katanya.
Agar komplikasi bisa dicegah, orang tua dan tenaga kesehatan diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap tanda-tanda awal penyakit ini.
"Kita perlu aware pada anak-anak dengan gejala, banyak makan, banyak minum, berat badannya turun, dan pada pemeriksaan gula darah yang didapatkan tinggi lebih dari 200," jelasnya.
Data yang dihimpun menunjukkan bahwa prevalensi DM tipe 1 di Indonesia mengalami lonjakan signifikan.
Dari angka 3,88 per 100.000 anak pada tahun 2000, menjadi 28,19 per 100.000 anak pada tahun 2010.
"Untuk data DM tipe 1 baru di Indonesia, tahun 2022 sebanyak 584 pasien, tahun 2023 ada tambahan 594, jadi akan kita dapatkan sekitar 1.178," katanya.
"Pada tahun 2024 didapatkan tambahan sebanyak 527 pasien, jadi akan kita dapatkan total sampai dengan April 2025 sebanyak 1.948 pasien anak dengan DM tipe 1," ia menambahkan.
Dalam pemaparannya, Nur juga mengungkapkan bahwa dari jumlah tersebut, sebanyak 58 persen adalah anak perempuan dan 42 persen anak laki-laki.
Ia menekankan perlunya kolaborasi antara pemerintah, tenaga medis, masyarakat, dan keluarga dalam menekan angka kesakitan dan kematian akibat DM tipe 1.
Menurut dia, langkah-langkah strategis seperti edukasi masyarakat, pemeriksaan kadar gula darah secara berkala, serta kampanye pola hidup sehat perlu digalakkan untuk menanggulangi masalah ini sejak dini. @desi
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!