IKAPJ Santuni 448 Anak Yatim dan Dhuafa dalam Peringatan Maulid Nabi di Polije 28 Aug 2026 Dari Tenaga Honorer, Muhamad Dahlan Kini Pimpin SDN Girimekar dengan Program Pendidikan Berkarakter 28 Aug 2026 Harga Tiket Mahal, The Jakmania Boikot Laga Persija vs Brisbane Roar 28 Aug 2026 Hasil FP1 MotoGP Aragon 2026, Marc Marquez Tercepat 28 Aug 2026 Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 Lengkap 28 Aug 2026 Toyota Camry Terbakar di Tol MBZ Arah Cikampek 28 Aug 2026 Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur Bank Indonesia 2026-2031 28 Aug 2026 Pesawat Tempur F-16 Lalu-lalang di Jakarta, Ini Penjelasan TNI AU 28 Aug 2026 3 Faktor Gaya Hidup yang Bisa Picu Penuaan Dini 28 Aug 2026 Ahli Ungkap Waktu Tidur yang Tepat untuk Jaga Energi 28 Aug 2026 IKAPJ Santuni 448 Anak Yatim dan Dhuafa dalam Peringatan Maulid Nabi di Polije 28 Aug 2026 Dari Tenaga Honorer, Muhamad Dahlan Kini Pimpin SDN Girimekar dengan Program Pendidikan Berkarakter 28 Aug 2026 Harga Tiket Mahal, The Jakmania Boikot Laga Persija vs Brisbane Roar 28 Aug 2026 Hasil FP1 MotoGP Aragon 2026, Marc Marquez Tercepat 28 Aug 2026 Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 Lengkap 28 Aug 2026 Toyota Camry Terbakar di Tol MBZ Arah Cikampek 28 Aug 2026 Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur Bank Indonesia 2026-2031 28 Aug 2026 Pesawat Tempur F-16 Lalu-lalang di Jakarta, Ini Penjelasan TNI AU 28 Aug 2026 3 Faktor Gaya Hidup yang Bisa Picu Penuaan Dini 28 Aug 2026 Ahli Ungkap Waktu Tidur yang Tepat untuk Jaga Energi 28 Aug 2026

Dianggap Bahaya, Pemerintah Pusat Hingga Daerah Harus Lakukan Pengawasan

ED
Senin, 3 Oktober 2022 | 23:53 WIB
Bagikan
Dianggap Bahaya, Pemerintah Pusat Hingga Daerah Harus Lakukan Pengawasan

VISI.NEWS | BANDUNG Anggota DPRD Jawa Barat (Jabar) Fraksi Golkar menegaskan agar baik
Pemrintah Pusat, Provinsi Jabar dan Pemda Kota Kabupaten di Jabar, lebih ketat dalam melakukan
pengawasan obat.

Hal itu dilakukan guna mencegah terjadinya peristiwa serupa dengan yang terjadi saat ini. Di mana,
banyak anak-anak meninggal karena mengalami gangguan ginjal akut, diduga efek dari obat sirup.

“Idealnya, setiap obat yang beredar di pasaran sudah dilakukan penelitian terkait dengan kandungan
yang ada di dalam obat tersebut, kenapa baru sekarang, setelah ada kejadian ?,” tegasnya.

Sementara obat-obat ini, sudah menjadi konsumsi untuk anak-anak selama ini, hal ini jelas sangat
disayangkan ketika saat ini berbagai analisa yang menyebutkan terdapat kandungan yang dianggap
bahaya baru diketahui hal layak.

“Ketika sakit, umumnya anak-anak banyak yang sudah mengkonsumsi obat-obat tersebut, tidak adakah
analisa sebelumnya terhadap obat tersebut, sehingga baru diketahui ada kandungan berbahaya dalam
obat tersebut," sambungnya.

Ahmad pun meminta agar pemerintah dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melakukan
pengawasan yang lebih ketat terhadap obat-obatan yang memiliki kandungan berbahaya bagi
kesehatan.

"Yang jelas pemerintah harus melakukan fungsi pengawasan terkait peredaran obat tersebut. Kedua,
lakukan penelitian apa saja isi kandungan dalam obat tersebut, dalam hal ini BPOM," katanya.

Menurutnya, jangan sampai lebih banyak korban akibat penggunaan obat yang memiliki kandungan
berbahaya.

"Lembaga yang ada harus mengecek semua kandungan yang ada di dalam obat tersebut, supaya
diketahui semuanya," ucapnya.

Selain itu, agar dilakukan penelitian terhadap jenis obat lain yang diduga memiliki kandungan cemaran
Etilen Glikol (EG) dan Dietilen Glikol (DEG) yang melebihi ambang batas aman.

"Jadi, jangan berhenti sampai di sini saja, harus bisa memastikan obat lainnya aman atau tidak, karena
menyangkut nyawa dan kondisi kesehatan orang yang mengonsumsi itu," pungkasnya.@eko

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.