Prabowo ke Lokasi Gempa NTT, Pastikan Penanganan Cepat dan Terkoordinasi 26 Aug 2026 Melchias Markus Mekeng Ingatkan Risiko Salah Sasaran Pembatasan Pertalite Berbasis Desil 26 Aug 2026 Bank Mandiri Sampaikan Permintaan Maaf, Rekening Botok Dibuka 26 Aug 2026 TPA Cioray Tasikmalaya Terbakar, Lima Hektare Terdampak 26 Aug 2026 Satu dari Tiga Korban Pantai Karangpapak Ditemukan Meninggal 26 Aug 2026 Hadiri Pesta Biru, Farhan, "Kalau lihat dari pemain, optimis pisan" 26 Aug 2026 UAJY Raih Hibah United Board 2026, Bersama AMSI Perkuat Jurnalisme Biodiversitas 26 Aug 2026 7 Tempat Makan Enak Dekat Stasiun Padalarang 26 Aug 2026 Pendakian Gunung Lincing Malang Ditutup akibat Kebakaran Hutan 26 Aug 2026 Pendaftaran TKA SMA 2026 Dibuka hingga 27 September, Ini Syaratnya 26 Aug 2026 Prabowo ke Lokasi Gempa NTT, Pastikan Penanganan Cepat dan Terkoordinasi 26 Aug 2026 Melchias Markus Mekeng Ingatkan Risiko Salah Sasaran Pembatasan Pertalite Berbasis Desil 26 Aug 2026 Bank Mandiri Sampaikan Permintaan Maaf, Rekening Botok Dibuka 26 Aug 2026 TPA Cioray Tasikmalaya Terbakar, Lima Hektare Terdampak 26 Aug 2026 Satu dari Tiga Korban Pantai Karangpapak Ditemukan Meninggal 26 Aug 2026 Hadiri Pesta Biru, Farhan, "Kalau lihat dari pemain, optimis pisan" 26 Aug 2026 UAJY Raih Hibah United Board 2026, Bersama AMSI Perkuat Jurnalisme Biodiversitas 26 Aug 2026 7 Tempat Makan Enak Dekat Stasiun Padalarang 26 Aug 2026 Pendakian Gunung Lincing Malang Ditutup akibat Kebakaran Hutan 26 Aug 2026 Pendaftaran TKA SMA 2026 Dibuka hingga 27 September, Ini Syaratnya 26 Aug 2026

Detik Sebelum Dentuman Tembakan Mengubah Segalanya

ED
Kamis, 11 September 2025 | 14:26 WIB
Bagikan
Detik Sebelum Dentuman Tembakan Mengubah Segalanya
VISI.NEWS | WASHINGTON - Beberapa detik sebelum dentuman tembakan memecah ketenangan, ribuan mahasiswa berkumpul di bawah langit biru cerah di sebuah kampus indah di Utah. Mereka datang untuk mendengar Charlie Kirk, aktivis konservatif berusia 31 tahun yang dianggap sebagai “bintang rock” politik kampus sayap kanan Amerika. Di bawah tenda bertuliskan “prove me wrong”, Kirk duduk berdebat dengan lawan-lawannya. Mahasiswa bersorak, sementara sebagian lainnya melancarkan protes. Namun suasana yang semula penuh energi itu seketika berubah mencekam ketika suara tembakan terdengar, membuat massa berhamburan ketakutan. Peluru menembus leher Kirk. Ia tersungkur di depan para pendukungnya, mengalami luka fatal, dan tak lama kemudian dinyatakan meninggal. Kamera yang merekam jalannya acara menampilkan detik-detik tragis itu, meninggalkan luka psikologis mendalam bagi ribuan saksi mata. Bagi banyak mahasiswa konservatif, Kirk bukan sekadar pembicara. Ia adalah simbol perlawanan di tengah dominasi ideologi liberal di kampus. Kini, bagi mereka, sosoknya bukan hanya pemimpin gerakan, tetapi juga martir yang gugur dalam perjuangan politik. Kirk dikenal sebagai pendukung vokal Donald Trump, pembela hak kepemilikan senjata, serta penentang keras kebijakan terkait transgender. Organisasinya, Turning Point US, memainkan peran penting dalam menggerakkan pemilih yang mendorong Trump kembali ke Gedung Putih tahun ini. Penembakan di Utah ini menambah daftar panjang kekerasan politik di Amerika. Tahun lalu, dua legislator Demokrat di Minnesota menjadi korban penembakan di rumah masing-masing. Donald Trump sendiri sempat dua kali menjadi target percobaan pembunuhan, termasuk insiden di Pennsylvania yang terjadi di tengah kampanye terbuka. Sejarah beberapa tahun terakhir juga diwarnai kasus serupa: penyerangan palu ke rumah mantan Ketua DPR Nancy Pelosi pada 2022, serta penembakan anggota Kongres Partai Republik saat latihan baseball di Virginia pada 2017. Semua itu menunjukkan pola ancaman politik yang semakin meningkat. Presiden Trump dalam pernyataan resminya menyebut tragedi ini sebagai “momen gelap bagi Amerika” dan langsung menuding “radikal kiri” sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kematian Kirk. Ucapannya mendapat sambutan dari kelompok konservatif, meski berisiko semakin memperuncing retorika politik yang sudah panas. Sementara itu, Gubernur Utah Spencer Cox, dengan nada emosional, menggambarkan bangsa ini sebagai “broken”. Ia mempertanyakan apakah inilah hasil dari 250 tahun perjalanan Amerika: politik yang berubah menjadi arena berdarah. Sebuah pertanyaan yang menggantung tanpa jawaban pasti, sementara negara masih diliputi ketidakpastian. @uli/bbc/saudigazette

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.