Dede Farhan Aulawi Tekankan Pentingnya Minimalisir Ketergantungan Produk Import
"Perbedaan sumber daya alam yang dimiliki oleh setiap negara menjadikan kerjasama antar negara sebagai solusi untuk saling mengisi sesuai kebutuhan strategis masing – masing negara. Jerman mendapatkan supplai yang cukup terkait kebutuhan gas alamnya dari Rusia, sementara Rusia juga merasa diuntungkan dengan adanya sumber pendapatan negara dari hasil penjualan gas alamnya ke Jerman. Sepanjang kondisinya baik tentu saling menguntungkan kedua belah pihak, namun ketika terjadi gangguan hubungan politik maka akanmengganggu kepenting keduanya," tambah Dede.
Selanjutnya Dede juga menjelaskan bahwa dari peristiwa tersebut seyogyanya Indonesia bisa memetik hikmah dan segera membuat langkah – langkan terobosan yang strategis. Indonesia saat ini masih memiliki ketergantungan terhadap beberapa komoditi impor, misalnya saja keperluan pemenuhan beras dan produk susu. Tentu bukan hanya itu karena masih banyak momoditi impor lainnya. Hal ini disebabkan karena Indonesia belum bisa mencapai kembali swasembada pangan atau yang dikenal dengan istilah kedaulatan pangan.
Di sisi lain juga harga produk impor juga dinilai jauh lebih murah dibandingkan produk serupa yang dihasilkan di dalam negeri. Di sisi lain lahan pertanian non produktif juga masih sangat luas, sehingga produktivitas setiap sentimeter lahan masih sangat rendah.
Belum lagi masalah penunjang lainnya seperti kelangkaan pupuk, irigasi / pengairan yang belum merata terutama di musim kemarau, buruh tani yang semakin berkurang karena beralih profesi menjadi pekerja pabrik, kesejahteraan petani yang relatif masih rendah, dan sebagainya. "Oleh karena itu, penghijauan dan upaya menjaga sumber mata air harus mendapat atensi penuh agar sumber – sumber mata air warga tidak beralih kepemilikan menjadi milik korporat yang banyak dieksploitasi sebagai tambang ekonomi," ungkapnya.
Fakta – fakta tersebut, kata Dede, berdampak pada tingginya ketergantungan pangan terhadap import. Ketergantungan impor merupakan salah satu indikator pengukuran tingkat kemandirian pangan dan ketahanan pangan. Salah satu ukuran tingkat kemandirian pangan nasional adalah dengan mengukur seberapa besar tingkat ketergantungan ketersediaan pangan terhadap impor (dan atau net-impor) dalam neraca pangan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!