Cuaca Bandara di Indonesia Pagi Ini: Soekarno-Hatta Berkabut

ED
PN
Selasa, 8 September 2026 | 05:48 WIB
Bagikan
Cuaca Bandara di Indonesia Pagi Ini: Soekarno-Hatta Berkabut

VISI.NEWS — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis informasi cuaca bandara di Indonesia untuk periode hingga 12 jam ke depan pada Selasa, 8 September 2026. Informasi yang diperbarui pukul 05.30 WIB tersebut mencakup sejumlah bandar udara yang tersebar di berbagai provinsi, termasuk enam bandara di Jawa Barat.

Dalam informasi BMKG tersebut, kondisi cuaca di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, menjadi salah satu yang perlu diperhatikan pada pagi hari. Bandara dengan kode ICAO WIII itu dilaporkan mengalami kondisi udara kabur dengan jarak pandang sekitar 5 kilometer.

Angin di kawasan Soekarno-Hatta tercatat bertiup dari arah barat daya dengan kecepatan sekitar 3,7 kilometer per jam. Suhu udara pada saat pengamatan berada di angka 24 derajat Celsius.

Kondisi udara kabur dengan jarak pandang 5 kilometer menunjukkan adanya penurunan kejernihan atmosfer dibandingkan kondisi udara yang sangat jelas. Dalam konteks operasional penerbangan, informasi mengenai jarak pandang menjadi salah satu unsur penting yang terus dipantau karena berkaitan dengan keselamatan dan kelancaran aktivitas di bandara.

BMKG menyediakan informasi tersebut melalui layanan cuaca bandara untuk membantu masyarakat dan pihak terkait mengetahui kondisi meteorologi terkini di sekitar bandar udara. Data mencakup kondisi cuaca, jarak pandang, arah dan kecepatan angin, serta suhu udara.

Di Jawa Barat, BMKG mencatat terdapat enam bandara yang masuk dalam daftar pemantauan, yakni Atang Sendjaja di Bogor, Husein Sastranegara di Bandung, Suryadarma di Kalijati, Subang, Kertajati, Wiriadinata di Cibeureum, Tasikmalaya, serta Cakrabhuwana atau Penggung di Cirebon.

Keberadaan sejumlah bandara dalam pemantauan cuaca menjadi penting karena Jawa Barat merupakan salah satu wilayah dengan aktivitas penerbangan yang cukup beragam, mulai dari penerbangan komersial hingga aktivitas penerbangan lainnya.

Selain Jawa Barat, BMKG juga menampilkan kondisi cuaca bandara di berbagai wilayah Indonesia. Informasi tersebut mencakup bandar udara di Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

Di Pulau Sumatra, pemantauan mencakup bandara di Aceh, Bengkulu, Jambi, Kepulauan Riau, Lampung, Riau, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara. Aceh memiliki empat bandara dalam daftar, yakni Maimun Saleh di Sabang, Sultan Iskandar Muda di Banda Aceh, Cut Nyak Dien di Nagan Raya atau Meulaboh, serta Malikus Saleh di Lhokseumawe.

Bengkulu memiliki dua bandara yang dipantau, yaitu Mukomuko dan Fatmawati Sukarno. Sementara itu, Jambi juga memiliki dua bandara, yakni Depati Parbo di Kerinci dan Sultan Thaha di Jambi.

Di Kepulauan Riau, daftar BMKG mencakup Raja Haji Abdullah di Tanjung Balai Karimun, Hang Nadim di Batam, Raja Haji Fisabilillah di Tanjung Pinang, Dabo di Singkep, Matak, dan Ranai di Natuna.

Lampung memiliki Radin Inten II dan Astra Ksetra dalam daftar pemantauan. Riau mencakup Sultan Syarif Kasim II di Pekanbaru dan Japura di Rengat.

Sementara itu, Sumatera Barat mencakup Minangkabau International Airport di Padang dan Lanud Sutan Sjahrir. Sumatera Selatan tercatat memiliki Sultan Mahmud Badaruddin II di Palembang.

Di Sumatera Utara, BMKG memantau lima bandara, yakni Binaka di Gunung Sitoli, Kualanamu International Airport di Deli Serdang, Dr. Ferdinand Lumban Tobing di Pinangsori atau Sibolga, Silangit di Tapanuli Utara, serta Aek Godang di Padang Sidempuan.

Pulau Jawa juga menjadi salah satu wilayah dengan cakupan pemantauan bandara yang luas. Selain enam bandara di Jawa Barat, BMKG mencatat dua bandara di Banten, yakni Budiarto di Curug dan Soekarno-Hatta di Jakarta.

Di wilayah Jawa Tengah terdapat Tunggul Wulung di Cilacap, Ahmad Yani di Semarang, dan Adi Soemarmo di Surakarta. Sementara itu, Jawa Timur menjadi salah satu wilayah dengan jumlah bandara terbanyak dalam daftar, yakni delapan bandara.

Bandara yang tercatat di Jawa Timur meliputi Iswahjudi di Madiun, Dhoho di Kediri, Bawean atau Harun Thohir, Abdulrachman Saleh di Malang, Juanda di Surabaya, Noto Hadinegoro di Jember, Trunojoyo di Sumenep, dan Banyuwangi.

Di Daerah Istimewa Yogyakarta, pemantauan meliputi Yogyakarta International Airport di Kulonprogo dan Adi Sutjipto di Yogyakarta. Bali tercatat memiliki satu bandara, yaitu I Gusti Ngurah Rai di Denpasar.

Pemantauan juga mencakup kawasan Nusa Tenggara. Nusa Tenggara Barat memiliki tiga bandara, yaitu Bandara Internasional Lombok di Praya, Sultan Muhammad Kaharuddin di Sumbawa Besar, dan Sultan Muhammad Salahuddin di Bima.

Sementara itu, Nusa Tenggara Timur memiliki cakupan yang lebih luas dengan 14 bandara. Di antaranya H. Hasan Aroeboesman di Ende, Tambolaka di Sumba Barat, Komodo di Labuan Bajo, Umbu Mehang Kunda di Waingapu, Frans Sales Lega di Ruteng, SOA di Bajawa, Tardamu di Sabu, Fransiskus Xaverius Seda di Maumere, Gewayantana di Larantuka, David Constantijn Saudale di Rote, Wunopito di Lembata, El Tari di Kupang, Mali di Alor, serta A.A. Bere Talo di Atambua.

Di Kalimantan, pemantauan cuaca bandara mencakup seluruh provinsi di pulau tersebut. Kalimantan Barat memiliki tujuh bandara dalam daftar, termasuk Singkawang II di Sanggau Ledo, Paloh di Sambas, Supadio di Pontianak, Rahadi Oesman di Ketapang, Tebelian di Sintang, Nanga Pinoh, serta Pangsuma di Putussibau.

Kalimantan Tengah memiliki enam bandara, termasuk Iskandar di Pangkalan Bun, Haji Asan di Sampit, Tjilik Riwut di Palangkaraya, Beringin di Muara Teweh, Sanggu di Buntok, dan Haji Muhammad Sidik di Muara Teweh.

Di Kalimantan Timur, terdapat Sultan Aji Muhammad Sulaiman di Sepinggan, Aji Pangeran Tumenggung Pranoto di Samarinda, serta Kalimarau di Tanjung Redeb. Kalimantan Utara mencakup Long Apung, Yuvai Semaring di Long Bawang, Tanjung Harapan di Tanjung Selor, Juwata di Tarakan, dan Nunukan.

Kalimantan Selatan tercatat memiliki dua bandara, yakni Syamsudin Noor di Banjarmasin dan Gusti Sjamsir Alam di Kotabaru.

Wilayah Sulawesi juga masuk dalam pemantauan. Sulawesi Selatan memiliki lima bandara, yakni Bandar Udara Toraja, Bandar Udara Robert Atty Bessing, Sultan Hasanuddin di Makassar, Pongtiku di Tana Toraja, serta Andi Jemma di Masamba.

Sulawesi Tengah memiliki lima bandara, meliputi Pogogul di Buol, Mutiara SIS Al-Jufri di Palu, Kasiguncu di Poso, Sultan Bantilan di Toli Toli, dan Syukuran Aminuddin Amir di Luwuk.

Sulawesi Tenggara mencakup Sangia Nibandera di Kolaka, Haluoleo di Kendari, dan Beto Ambari di Bau Bau. Sulawesi Utara terdiri atas Sam Ratulangi di Manado dan Naha di Tahuna. Sementara Sulawesi Barat memiliki satu bandara, yakni Tampa Padang di Mamuju.

Di kawasan Maluku, BMKG mencatat sembilan bandara dalam daftar pemantauan. Di antaranya Kuffar di Seram Bagian Timur, Namniwel di Namlea, Pattimura di Ambon, Amahai, Bandaneira di Banda, Olilit dan Mathilda Batlayeri di Saumlaki, Dumatubun di Langgur, serta Karel Sadsuitubun di Tual.

Maluku Utara mencakup enam bandara, yaitu Emalamo di Sanana, Sultan Babullah di Ternate, Oesman Sadik di Labuha, Gamar Malamo di Galela, Kuabang Kao, dan Pitu di Morotai.

Sementara itu, daftar pemantauan BMKG di Papua dan wilayah pemekarannya juga mencakup sejumlah bandara yang tersebar di berbagai daerah. Papua memiliki Stevanus Rumbewas di Serui, Frans Kaisiepo di Biak, Mararena atau Orai di Sarmi, dan Sentani di Jayapura.

Papua Barat memiliki Torea di Fak Fak, Utarom di Kaimana, serta Rendani di Manokwari. Papua Barat Daya memiliki Domine Eduard Osok di Sorong.

Di Papua Pegunungan, BMKG mencatat Bandara Wamena. Papua Selatan mencakup Tanah Merah dan Mopah di Merauke. Sementara Papua Tengah mencakup Douw Aturure di Nabire, Enarotali, serta Mozes Kilangin di Timika.

Secara keseluruhan, informasi cuaca bandara BMKG pada Selasa pagi memberikan gambaran mengenai kondisi meteorologi di berbagai simpul penerbangan Indonesia hingga 12 jam ke depan. Informasi tersebut dapat berubah mengikuti dinamika atmosfer sehingga kondisi aktual di masing-masing bandara perlu terus dipantau.

Untuk masyarakat yang hendak melakukan perjalanan udara pada Selasa, 8 September 2026, kondisi cuaca menjadi salah satu informasi penting yang perlu diperhatikan selain jadwal penerbangan. Penumpang juga disarankan mengikuti informasi terbaru dari maskapai dan pengelola bandara karena keputusan operasional penerbangan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk perkembangan cuaca dan kondisi keselamatan penerbangan.

Pada pengamatan pukul 05.30 WIB, kondisi yang secara spesifik ditampilkan BMKG untuk Soekarno-Hatta adalah udara kabur dengan jarak pandang 5 kilometer, angin dari barat daya 3,7 kilometer per jam, dan suhu 24 derajat Celsius. Sementara daftar bandara lainnya menunjukkan cakupan pemantauan BMKG yang luas di seluruh Indonesia.

Dengan pemantauan cuaca secara berkala, masyarakat dapat memperoleh informasi lebih awal mengenai kondisi atmosfer di sekitar bandara sebelum memulai perjalanan. BMKG juga terus memperbarui informasi cuaca bandara mengikuti perkembangan kondisi atmosfer dan kebutuhan operasional penerbangan.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.