China Diteror Serangan Massal, Dua Kejadian Mematikan dalam Sepekan
Editor
Desi Rossilawati
Senin, 18 November 2024 | 00:00 WIB
VISI.NEWS | CHINA - China dilanda dua serangan massal yang mengguncang negara dalam sepekan terakhir, dengan korban jiwa yang cukup besar. Terbaru, pada Sabtu (16/11/2024), seorang mantan siswa menyerang Sekolah Kejuruan Seni dan Teknologi Wuxi di Yixing, menewaskan delapan orang dan melukai 17 lainnya. Tersangka, seorang pria berusia 21 tahun, langsung ditangkap di lokasi kejadian dan mengaku melakukan aksi penyerangan tersebut setelah gagal ujian dan tidak mendapatkan sertifikat kelulusan serta merasa tidak puas dengan kompensasi magangnya.
"Menurut penyelidikan awal, tersangka... menyerang orang lain setelah gagal ujian dan tidak menerima sertifikat kelulusannya, serta tidak puas dengan kompensasi magangnya," kata Biro Keamanan Publik Yixing dalam pernyataannya.
Kejadian ini terjadi hanya beberapa hari setelah insiden serupa di Zhuhai, pada Senin (11/11/2024), di mana seorang pria berusia 62 tahun menabrakkan mobilnya ke kerumunan di luar stadion olahraga, mengakibatkan 35 orang tewas dan 43 lainnya terluka. Polisi telah menangkap pelaku yang dilaporkan marah dengan ketentuan penyelesaian perceraian yang sedang dijalaninya.
Menurut polisi, kedua pelaku serangan ini memiliki kesamaan dalam motivasi, yakni kemarahan terkait dengan masalah pribadi dan ketidakpuasan ekonomi. Kejadian-kejadian ini memicu diskusi luas di media sosial China mengenai dampak perlambatan ekonomi terhadap kesehatan mental, terutama di kalangan generasi muda yang merasa terpinggirkan.
Profesor Qu Weiguo dari Universitas Fudan mengomentari serangan-serangan ini sebagai bentuk "balas dendam tanpa pandang bulu terhadap masyarakat" menggarisbawahi pentingnya pembinaan psikologis dan penyediaan saluran untuk mengungkapkan ketidakpuasan secara konstruktif. Topik mengenai penurunan optimisme dan peluang di China telah menjadi perbincangan utama di dunia maya.
Presiden Xi Jinping juga memberikan tanggapan terhadap kejadian-kejadian ini, mendesak polisi untuk memperkuat pengawasan terhadap individu-individu yang dianggap berisiko melakukan kekerasan. Kejadian-kejadian ini menunjukkan adanya ketegangan sosial yang lebih luas di tengah ekonomi yang melambat dan peningkatan ketidakpuasan di kalangan masyarakat.
@ffr
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!