Buka Pameran Artesis 2, Anna Sungkar, "Sekarang Seni Rupa, Gabungan atas Beberapa Disiplin Ilmu"
VISI.NEWS | JAKARTA - Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono dan Dr. Wagiono Sunarto dua tokoh pergerakan seni Indonesia yang bergema pada tahun 70an karena semangatnya yang mengedepankan eksperimentasi dan pembaharuan. Namun mereka tidak berhenti sampai di situ, keduanya kemudian terlibat aktif dalam dunia pendidikan. Sapardi melanjutkan pendidikannya sampai mendapatkan gelar Profesor sambil menerbitkan banyak buku puisi, esei, cerpen, terjemahan novel dan puisi, dan telaah serta teori sastra. Demikian pula Dr. Wagiono Sunarto aktif di dunia pendidikan dengan mendirikan Pasca Sarjana IKJ.
Hal ini dikemukakan oleh Dr. Anna Sungkar saat membuka pameran lukisan Artesis 2 di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jl. Cikini Raya no. 73 Jakarta, Rabu (17/8/2022). Pameran sebagai tribute terhadap dua maestro sekaligus sesepuh Pasca Sarjana IKJ. Artesis 2 ini merupakan kelanjutan pameran sebelumnya, “Tribute to Urban Masters: Sapardi Djoko Damono dan Wagiono Sunarto”.
"Kita mengetahui bahwa di masa mudanya, sekitar akhir 60an sampai tahun 70an, Dr. Wagiono Sunarto banyak melakukan eksperimentasi grafis. Ilmu yang didapatkan dari bangku kuliah di ITB itu kemudian dipraktekkan pada dunia komersial, yaitu pada industri periklanan. Ia menjadi pemimpin dan CEO beberapa perusahaan konsultan design grafis. Walau ia sudah cukup berduit ketika itu, namun Dr. Wagiono tetap berkiprah dalam dunia seni rupa eksperimental. Beliau kemudian terlibat dalam Gerakan Seni Rupa Baru atau GSRB di tahun 1975 sebagai protes atas dimenangkannya para pelukis senior yang itu-itu saja pada ajang “Pameran Besar Seni Lukis Indonesia” (PBSLI) yang diselenggarakan oleh Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta pada 18-31 Desember 1974 di Taman Ismail Marzuki," ungkap Anna.
Protes pada PBSLI inilah, kata Anna, kemudian disebut sebagai peristiwa Desember Hitam. Bersama-sama dengan Jim Supangkat, Agus Dermawan, FX Harsono, Dede Eri Supria, Prinka, dan nama-nama lain yang sekarang telah menjadi tokoh klasik senirupa kontemporer Indonesia. "Dr. Wagiono melakukan protes dan memberikan arah baru senirupa Indonesia ke depan dan jejaknya masih kita lihat sampai saat ini. Misalnya pengkotak-kotakan antara seni lukis dengan seni yang lain, hilangnya kesakralan seni patung sehingga diperkenalkan seni instalasi. Demikian pula grafis sebagai elemen baru dalam senirupa ketika itu kemudian menjadi trend berbarengan dengan majunya pop art sebagai bagian dari arus besar senirupa kontemporer," ujarnya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!