Beban Olimpiade: Apakah Olimpiade Masih Relevan?
Oleh Lachlan Guselli, 360info
SEJAK tahun 1896, Olimpiade modern telah menjadi salah satu mega-event olahraga paling diidamkan dan dicintai di dunia. Pada abad ke-20, Olimpiade digunakan sebagai batu loncatan bagi suatu negara untuk menunjukkan ambisinya kepada dunia.
Sebagai katalis perubahan, Olimpiade melambungkan kota-kota seperti Seoul dan Barcelona ke dalam kesadaran kolektif dunia. Namun, Olimpiade juga dimanfaatkan untuk memproyeksikan visi manusia yang terdistorsi, seperti yang terjadi pada Olimpiade Nazi di Berlin 1936 dan program doping yang disponsori negara.
Olimpiade juga menjadi platform untuk seruan kesetaraan, seperti salut kekuatan hitam di Olimpiade Mexico City 1968, dan benturan ideologi yang membuat Amerika Serikat dan sekutunya memboikot Olimpiade Moskow 1980, diikuti oleh Uni Soviet dan sekutunya yang memboikot Olimpiade Los Angeles empat tahun kemudian.
Namun, seiring dengan masuknya Olimpiade ke milenium baru dan aspek performatif dari pembangunan bangsa kehilangan daya tariknya di dunia yang semakin global, dukungan terhadap Olimpiade mulai berkurang.
Kontrak TV yang besar yang mendukung industri miliaran dolar dari Komite Olimpiade Internasional kini tampak tidak sesuai dengan realitas pasar siaran yang terus menurun, sementara biaya dan logistik yang terlibat dalam penyelenggaraan acara ini terus meningkat.
Seperti yang ditulis oleh Alexander Faure dari L'École des Hautes Études en Sciences Sociales, Paris: "Cara kota menjadi tuan rumah Olimpiade sedang berubah. Mengadakan acara ini telah menjadi beban, semakin sedikit kota yang tertarik untuk melakukannya."
Sementara Tim Harcourt dari University of Technology Sydney berpendapat bahwa "sebuah negara tidak menjadi tuan rumah Olimpiade untuk mencari keuntungan". Sebaliknya, Olimpiade menempatkan negara dalam etalase dunia.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!