Bagaimana Hak Asasi Manusia Menghilang di Depan Mata Kita

ED
Minggu, 1 September 2024 | 08:27 WIB
Bagikan
Bagaimana Hak Asasi Manusia Menghilang di Depan Mata Kita

Oleh Suhas Chakma(360info)

HAK ASASI manusia tidak ada dalam sebagian besar sejarah manusia. Perjuangan untuk mengamankannya bisa dibilang dimulai pada tahun 1215 dengan Magna Carta di Inggris, yang menjanjikan perlindungan dari pemenjaraan ilegal sebagai hak.

Namun, butuh 733 tahun lagi dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, agar hak-hak tersebut diabadikan untuk semua orang. Sekarang, hanya 76 tahun kemudian, hak-hak tersebut berisiko hilang.

Di tengah pembantaian yang sedang berlangsung dan sangat terbuka di Gaza, di mana negara-negara Barat tetap menjadi penonton bisu atau pendukung, perbedaan moral antara demokrasi liberal di Barat dan demokrasi tidak liberal serta kediktatoran di antara yang lainnya mulai menghilang. Diperkirakan 40.000 warga Palestina, banyak di antaranya bayi, anak-anak, dan wanita, telah tewas dalam pembantaian Israel di Gaza yang dimulai setelah serangan teror oleh Hamas yang menewaskan 1.478 warga Israel, sebagian besar warga sipil. Korban serangan Israel termasuk 113 wartawan dan 224 pekerja bantuan kemanusiaan, 179 di antaranya adalah karyawan Badan Bantuan dan Pekerjaan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina. Ada juga tuduhan yang dapat dipercaya tentang kejahatan seksual oleh pasukan Israel.

Tanggapan Barat dan terutama Amerika terhadap semua ini, mulai dari anggukan diam hingga tepuk tangan meriah untuk Israel, dapat memungkinkan pemerintah lain di seluruh dunia untuk membenarkan segala macam pelanggaran hak asasi manusia atas nama keamanan nasional.

Kebangkitan dan kejatuhan Runtuhnya Tembok Berlin pada tahun 1989 dan runtuhnya rezim totaliter berikutnya di seluruh Eropa Timur dan di bekas Uni Soviet mengawali era baru kebebasan, hak, dan demokrasi di bagian-bagian dunia tersebut. Perserikatan Bangsa-Bangsa menyelenggarakan serangkaian konferensi dunia pada periode pasca-Perang Dingin yang dimulai dengan Earth Summit 1992 di Rio, World Conference on Human Rights 1993 di Wina, World Conference on Women 1995 di Beijing, dan World Summit for Social Development 1995 di Kopenhagen.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.