AMSI Gaungkan #NoTaxforKnowledge Demi Masa Depan Media
VISI.NEWS | BANDUNG - Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) turut mengkampanyekan #NoTaxforKnowledge sebagai bentuk dorongan agar akses terhadap ilmu pengetahuan semakin mudah, inklusif dan bebas hambatan bagi publik secara luas. Seruan AMSI ini agar akses terhadap ilmu pengetahuan tidak dibebani pajak dan masyarakat dapat memperoleh informasi yang berkualitas. AMSI berharap kampanye #NoTaxforKnowledge menjadi kebijakan yang mendukung ekosistem informasi yang sehat. Indonesia merupakan salah satu negara di kawasan ASEAN dengan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) tertinggi untuk sumber pengetahuan, yaitu mencapai 11%-12%, yaitu sumber pengetahuan berupa media, buku, publikasi ilmiah dan lainnya. Sedangkan negara-negara ASEAN seperti Vietnam tarif pajaknya hanya 5%, dan Singapore tarif pajaknya sebesar 8%.
Usman Kansong, Pakar Komunikasi yang pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika periode 2021 - 2024, turut menyatakan dukungannya untuk gerakan #NoTaxforKnowledge. Menurut pendapatnya, “beberapa negara, misalnya di India, Filipina dan ASEAN sudah tidak memberlakukan PPN, negara-negara yang memberlakukan PPN media (*di ASEAN) itu cuma Indonesia, Singapore dan Vietnam. Indonesia di atas kertas PPN-nya yang tertinggi 11% hingga 12%.”
Menurut Usman, Menteri Keuangan Republik Indonesia memiliki otoritas atas peraturan yang bisa memiliki diskresi— sehingga #NoTaxforKnowledge bukan hanya untuk media, tetapi juga industri buku. Bahkan industri buku tidak cuma menghadapi pajak yang tinggi, namun juga mengalami pembajakan. “#NoTaxforKnowledge adalah wujud keseimbangan antara idealisme dan komersialisme. Karena untuk mewujudkan idealisme dibutuhkan kekuatan komersial yang menopang, “ungkap Usman Kansong.
Organisasi media seperti IKAPI, AMSI dan organisasi pers lainnya, dan bahkan universitas dapat saling berkolaborasi dalam mengkampanyekan #NoTaxforKnowledge, sebagai strategi untuk menjaga sustainability demokrasi dan menjaga ilmu pengetahuan. Jika industri media dan buku mengalami kebangkrutan tentu akan menciptakan ketidakseimbangan ilmu pengetahuan dan menambah jumlah pengangguran.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!