Amankah Makan Mi Instan Saat Sahur dan Berbuka? Ini Kata Ahli Gizi
Editor
Desi Rossilawati
Sabtu, 1 Maret 2025 | 01:20 WIB
VISI.NEWS | BANDUNG - Mi instan menjadi pilihan banyak orang untuk sahur dan berbuka puasa karena praktis dan memiliki rasa yang lezat. Namun, apakah makanan ini baik untuk kesehatan?
Menurut dr. Kristina Joy Herlambang, spesialis gizi klinik RS EMC Tangerang, mi instan dibuat dari tepung yang telah mengalami banyak proses pengolahan (highly processed) dan umumnya hanya mengandung karbohidrat tanpa kandungan protein yang cukup.
“Mi instan enggak bagusnya karena tepungnya udah pasti yang highly processed jadi tepungnya itu bukan tepung yang kandungan nutrisinya bagus-bagus banget. Terus, mi instan itu kan benar-benar cuman karbo, bahan makanan sumber karbohidrat, artinya proteinnya rendah,” jelas Joy.
Saat sahur, tubuh memerlukan makanan yang mengandung protein dan serat agar dapat bertahan lebih lama tanpa merasa lapar. Jika tetap ingin mengonsumsi mi instan, disarankan untuk menambahkan sayuran, telur, atau irisan ayam atau ikan. Selain itu, penggunaan bumbu mi instan sebaiknya dikurangi karena mengandung natrium yang tinggi.
Joy mengatakan, misalnya bikin mi instan tapi dikasih sayurannya lebih banyak, dikasih telur, dikasih irisan ayam atau ikan, terus bumbunya dikurangin karena bumbunya itu natriumnya tinggi banget dan jangan keseringan,”
Mengenai frekuensi konsumsi, Joy menekankan bahwa yang lebih penting adalah keseimbangan pola makan secara keseluruhan.
“Orang itu suka nanyanya makan berapa kali (dalam sebulan). Sebetulnya lebih ke frekuensi sama perbandingannya. Kalau kita sehari-hari makannya donat, bolu, martabak, mau mi instannya cuman sekali sebulan, tetap saja makanan-makanan yang lainnya kan enggak sehat.” jelasnya.
Menurut Joy, makanan tidak sehat sebaiknya hanya 30% dari total konsumsi harian, sementara 70% sisanya harus terdiri dari makanan sehat seperti sayuran, protein berkualitas, dan makanan alami.
Selain membahas mi instan, Joy juga menjelaskan bahwa puasa Ramadan memiliki berbagai manfaat kesehatan, termasuk potensi menormalkan kadar gula darah.
“Singkatnya fakta, tapi dengan banyak catatan. Tergantung kondisi pasiennya seperti apa, kontrol gula darahnya seperti apa, dan puasanya seperti apa,” ujarnya.
Namun, manfaat ini tidak akan dirasakan jika seseorang tetap mengonsumsi makanan tinggi gula, rendah serat, dan kurang protein saat berbuka.
“Konsumsi minuman manis yang kandungan gulanya tinggi, makanan banyak tepung mengandung gula, rendah serat, tidak ada nutrisi vitamin dan mineralnya, proteinnya kurang, ya itu enggak menjadi puasa yang bermanfaat, malah bisa jadi memberatkan kondisi pasiennya,” tambah Joy.
Sebaliknya, jika selama Ramadan seseorang mengonsumsi makanan sehat yang kaya serat, protein, vitamin, dan mineral, maka manfaat puasa bagi kesehatan, termasuk regulasi gula darah, akan lebih terasa. @ffr
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!