Akselerasi Dekarbonisasi 2026: Sinergi Lintas Sektor Dorong Pencapaian Target Nasional Indonesia
Diselenggarakan pada Desember 2025, simposium tahun ini mengusung tema "Decarbonizing for Our Sustainable Tomorrow". Melalui platform ini, perusahaan berkomitmen untuk memfasilitasi aksi nyata yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi hijau, percepatan dekarbonisasi, serta penguatan sirkularitas di berbagai sektor. Dalam rangkaian simposium tersebut, SCG menghadirkan tiga sesi diskusi utama yang menyoroti berbagai inovasi serta langkah konkret dekarbonisasi dan ekonomi sirkular, baik dari perspektif kebijakan pemerintah, implementasi industri, hingga peran aktif masyarakat luas. Sesi 1: Perjalanan Dekarbonisasi di Sektor Industri
Pada acara simposium utama (flagship) ini, SCG menghadirkan sesi diskusi bersama para pelaku industri nasional untuk memetakan tantangan nyata sekaligus peluang dalam mencapai target Net Zero Emission pada tahun 2060. Fabby Tumiwa, Chief Executive Officer Institute for Essential Services Reform (IESR), menekankan urgensi transisi ini dengan menyoroti proyeksi lonjakan permintaan produk manufaktur sebesar 0,8 - 3 kali lipat pada tahun 2050 dibandingkan posisi tahun 2023. Tanpa intervensi rendah karbon, peningkatan permintaan ini dikhawatirkan akan memicu kenaikan emisi industri hingga 107% pada tahun 2050 dalam skenario Business-as-Usual (BaU). Dalam sesi ini, Fabby menjelaskan 5 pilar dekarbonisasi industri yang dapat diaplikasikan oleh pelaku industri:- Efisiensi Energi dan Material
- Pemutakhiran Proses
- Penangkapan, Pemanfaatan, Utilisasi, dan/atau Penyimpanan Karbon
- Substitusi Bahan Bakar dan Material
- Listrik Rendah Karbon dan Elektrifikasi
Sesi ini juga menampilkan berbagai terobosan industri yang mendukung percepatan dekarbonisasi industri di Indonesia. Di antaranya ada:
PT TBS Energi Utama Tbk.: Menuju Netralitas Karbon 2030 Melalui strategi TBS2030, PT TBS Energi Utama Tbk. menargetkan tercapainya netralitas karbon pada tahun 2030. Hal ini diwujudkan melalui transisi bisnis dengan melepaskan aset berbasis batubara serta rencana penghentian tiga konsesi tambang batubara pada tahun 2027. Sebagai gantinya, perusahaan mengalokasikan investasi sebesar USD 600 juta untuk membangun portofolio hijau yang berfokus pada pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan ekosistem kendaraan listrik. SCGJWD Logistics: Dekarbonisasi Logistik untuk Masa Depan Hijau Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang logistik, SCGJWD berkomitmen untuk mencapai emisi nol bersih (Net Zero) pada tahun 2050 melalui peta jalan dekarbonisasi yang komprehensif. Strategi ini mencakup pengurangan emisi Scope 1, 2, dan 3 secara bertahap, dengan target reduksi emisi sebesar 30% pada tahun 2027 dan mencapai 40% pada tahun 2030. Sesi 2: Mempercepat Sistem Ekonomi Sirkular Indonesia Saat ini, dunia tengah menghadapi fase Triple Planetary Crisis. Ironisnya, tingkat sirkularitas global justru menurun dari 8,6% pada 2020 menjadi 6,9% pada 2024 akibat praktik bisnis konvensional (Business-as-Usual). Saat ESG Symposium 2025 Indonesia, Puspita Suryaningtyas, Sekretaris Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Bappenas, menegaskan upaya pemerintah terhadap Ekonomi Sirkular melalui RPJPN 2025-2045 untuk mendorong transformasi menuju ekonomi hijau yang berfokus pada pangan, konstruksi, elektronik, ritel, dan tekstil. Berdasarkan presentasi saat ESG Symposium 2025 Indonesia, pemerintah mempercayai bahwa keberhasilan transisi ini bertumpu pada kolaborasi Penta Helix: Pemerintah, Industri, Akademisi, Masyarakat/Komunitas, Media. Menyadari pentingnya keterlibatan pemangku kepentingan yang inklusif dalam percepatan ekonomi sirkular, SCG juga menghadirkan pembicara dari pihak yang berperan penting dalam transisi ekonomi sirkular, yakni perwakilan Bappenas selaku perwakilan dari pemerintah; Mitra10 dan Monobo selaku perwakilan dari industri bisnis; ASEAN Centre for Sustainable Development Studies and Dialogue (ACSDSD), Thailand selaku perwakilan akademisi, serta Alya Zahra Sabira selaku perwakilan dari generasi muda. Sesi 3: Komitmen Memperkuat Kolaborasi demi Masa Depan yang Berkelanjutan SCG menegaskan komitmennya sebagai mitra pembangunan nasional melalui penerapan prinsip "Inclusive Green Growth" mewujudkan Low Carbon Society melalui pertumbuhan berkelanjutan yang didorong oleh inovasi hijau. Namun, untuk merealisasikan visi besar tersebut, SCG meyakini bahwa kerja sama inklusif dengan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, sektor swasta, hingga masyarakat, adalah kunci utama. Sebagai langkah konkret, SCG menghadirkan sesi Joint Declaration dalam ESG Symposium 2025 Indonesia, yang merupakan deklarasi nyata atas penerapan model kemitraan Public, Private, People Partnership (PPPP). Sistem kerja sama ini diinisiasi oleh SCG bersama para pemangku kepentingan strategis yang terdiri dari Pemerintah Kab. Sukabumi, sektor swasta dan mitra industri hijau, serta komunitas masyarakat yan diwakili oleh SCG Mentari. Melalui deklarasi ini, SCG bersama seluruh pihak yang terlibat bertekad memperkuat sinergi untuk mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) di Indonesia melalui kerja sama yang berkelanjutan dan inklusif.@uli
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!