Ajudan Presiden Yoon Suk Yeol Mundur Massal setelah Gagalnya Pengumuman Darurat Militer
Editor
Desi Rossilawati
Kamis, 2 Januari 2025 | 21:15 WIB
VISI.NEWS | KORSEL - Seluruh ajudan Presiden Korea Selatan, Yoon Suk Yeol, mengajukan pengunduran diri secara bersamaan pada Rabu (1/1/2025). Mereka yang mundur meliputi kepala staf presiden, kepala kebijakan, penasihat keamanan nasional, penasihat luar negeri dan keamanan, serta sekretaris senior lainnya. Meskipun kantor presiden mengonfirmasi pernyataan ini, rincian lebih lanjut mengenai alasan pengunduran diri mereka tidak diungkapkan.
Keputusan para ajudan untuk mundur ini telah direncanakan sejak lama, menyusul kegagalan Yoon dalam mengumumkan darurat militer pada 3 Desember 2024. Meskipun demikian, pengunduran diri mereka baru diajukan pada awal tahun 2025. Seorang pejabat dari kantor presiden menyatakan bahwa keputusan untuk menerima pengunduran diri mereka baru dilakukan setelah berulang kali disampaikan oleh para ajudan.
Pejabat tersebut juga menambahkan bahwa selama masa transisi, sekretaris senior telah memberikan dukungan kepada Choi Sang-mok, yang menjabat sebagai presiden sementara Korea Selatan. Meskipun tidak terlibat langsung dalam kegiatan sehari-hari pemerintahan, mereka tetap melapor kepada Choi dan hadir dalam rapat-rapat jika diperlukan.
Pengunduran diri massal ini terjadi setelah keputusan mengejutkan dari Choi untuk mengisi dua posisi kosong di Mahkamah Konstitusi. Hal ini menambah jumlah hakim menjadi delapan dari sembilan anggota, yang berarti bahwa setiap keputusan mengenai pemakzulan Yoon membutuhkan persetujuan minimal enam hakim. Keputusan tersebut menuai kritik dari Partai Kekuatan Rakyat yang menganggapnya kurang berkonsultasi dan terlalu dogmatis.
Presiden Yoon kini menghadapi tuduhan pemberontakan, dan pada Selasa lalu, pengadilan Seoul memberikan izin untuk penangkapannya, menjadikannya presiden pertama dalam sejarah Korea Selatan yang disetujui penangkapannya saat masih menjabat. Penyelidikan atas kasus ini sedang berlangsung, dengan situasi politik yang semakin memanas di negara tersebut. @ffr
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!