Aceh Tamiang Diterjang Banjir Besar, Mobilitas Lumpuh dan Penanganan Terkendala Akses
Dinas Sosial Aceh menginstruksikan Taruna Siaga Bencana (TAGANA) di seluruh kabupaten/kota untuk siaga penuh, dengan prioritas pada kelompok rentan. Sementara itu, dukungan dari Polda Aceh, TNI/Polri, Basarnas, dan berbagai relawan mulai berdatangan sejak 26 November 2025.
Di sisi infrastruktur energi, PLN melaporkan kerusakan pada lima tower SUTT 150 kV dan telah mengerahkan personel dari berbagai provinsi untuk membangun tower darurat dan memulihkan pasokan listrik yang terdampak di sejumlah wilayah Aceh, termasuk Kabupaten Aceh Tamiang.
Instruksi siaga bencana dari Bupati Aceh Tamiang pada pekan lalu juga menjadi salah satu langkah antisipatif penting. Arahan tersebut mencakup evakuasi dini, pembentukan Satgas terpadu, kesiapsiagaan layanan kesehatan, serta penyediaan bantuan kemanusiaan.
Direktur Eksekutif Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI), Sarman Simanjorang menyatakan bahwa APKASI saat ini tengah menggalang dukungan untuk membantu kabupaten terdampak. “Solidaritas untuk membantu wilayah terdampak bencana di Sumatera termasuk Aceh Tamiang menjadi hal penting yang harus kita dorong bersama. Penggalangan dana dan dukungan sedang dihimpun untuk membantu percepatan penanganan dan pemulihan bagi masyarakat.”
Kondisi Informasi yang Terbatas dan Akses Terputus
Hingga saat ini, akses menuju sejumlah wilayah di Aceh Tamiang masih terputus, baik akibat banjir maupun longsor, sehingga menyulitkan evakuasi, distribusi logistik, dan pengiriman bantuan tambahan. Kondisi ini juga menyebabkan sebagian warga masih sulit dijangkau oleh petugas. Di saat yang sama, belum ada data resmi yang direkam oleh Pusdalops Aceh Tamiang mengenai tingkat kerusakan, kondisi infrastruktur, ataupun daftar posko yang tersedia. Kendala ini terjadi akibat terputusnya jaringan komunikasi, padamnya listrik, serta terbatasnya mobilitas petugas di lapangan.
Terputusnya jaringan komunikasi turut mengakibatkan banyak keluarga yang tinggal di luar daerah belum dapat memperoleh kabar dari anggota keluarga mereka di Aceh Tamiang. Situasi ini memunculkan kekhawatiran yang meluas dan mendorong perlunya perhatian yang lebih intens terhadap perkembangan di lapangan. Beberapa titik dilaporkan mengalami genangan ekstrem, sementara titik lain menunjukkan tanda-tanda mulai surut, meski kondisi keseluruhan masih sangat dinamis.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!