Di Solo Ada Gerakan Pakai Kebaya untuk Dukung Kebaya Warisan Budaya Dunia
VISI.NEWS | SOLO - Busana tradisional kebaya yang setiap memperingati Hari Kartini dikenakan kaum hawa di Indonesia, digaungkan secara nasional untuk diusulkan ke lembaga dunia UNESCO sebagai salah satu warisan budaya tak benda.
Dalam mendukung usulan tersebut, alumni SMA Negeri 4 bersama warga Kota Solo meluncurkan gerakan nasional pakai kebaya untuk sosialisasi dengan target utama kalangan generasi muda. Dalam rangkaian peluncuran gerakan nasional pakai kebaya tersebut, alumni SMA Negeri 4 Solo akan menggelar sosialisasi di kawasan car free day (CFD), Jl. Slamet Riyadi tidak jauh dari rumah dinas Wali Kota Solo "Loji Gandrung" dan melibatkan lebih dari 100 orang berkebaya.
Ketua Panitia Sosialisasi Gerakan Pakai Kebaya, Lusiana Wiwik, menjelaskan kepada VISI.NEWS, di Wedangan Sriwedari, Jumat (26/8/2022), tujuan pengusulan kebaya sebagai warisan budaya tak benda ke UNESCO adalah agar busana tradisional tersebut tidak punah tetapi dapat semakin berkembang. Kesepakatan untuk mengusulkan kebaya sebagai warisan budaya tak benda ke UNESCO, dicapai pada Kongres Kebaya yang digelar pada 2021 lalu.
"Jadi pengakuan UNESCO terhadap kebaya sebagai warisan budaya tak benda, merupakan upaya agar kebaya dikenakan berbagai generasi. Karena kebaya bukan merupakan busana hanya untuk orang-orang tua di forum-forum resmi. Kebaya yang tidak formal dan tidak terkesan berat, bisa dikenakan generasi muda untuk kegiatan sehari-hari," ujarnya.
Diluncurkannya gerakan pakai kebaya secara nasional, sambungnya, sebagai upaya mencapai target pengakuan UNESCO setelah pengakuan jamu sebagai warisan budaya tak benda yang kini dalam proses. Menurut Wiwik, saat ini usulan kebaya ke UNESCO belum diproses, karena berdasarkan ketentuan setiap negara hanya bisa mengajukan satu usulan per tahun.
"Pada tahun 2022 ini Indonesia mengajukan jamu sebagai warisan budaya tak benda. Target kami, setelah usulan jamu diterima akan kami usulkan kebaya. Ada tiga model kebaya yang akan kita ajukan ke UNESCO, yaitu Kebaya Kartini, Kebaya Kutahu Baru dan Kebaya Encim," jelasnya.
Lusiana Wiwik melihat, penggunaan busana tradisional kebaya belakangan semakin luas. Dia menunjuk contoh, kebaya mulai digunakan sebagai seragam di sekolah. Selain itu, kebaya juga dikenakan karyawan di instansi-instansi pada hari-hari tertentu, seperti di Pemkot Solo dikenakan setiap hari Kamis.
"Kebaya sebenarnya bisa dikombinasi dengan Wastra atau busana warisan Nusantara. Bagi generasi muda, bisa mengombinasikan kebaya dengan celana dan sebagainya," imbuhnya.
Wiwik bersama sejumlah alumni SMA Negeri 4 yang semua mengenakan kebaya, menambahkan, untuk mencapai target pengakuan UNESCO setelah jamu mendapatkan pengakuan, pihaknya akan melakukan kajian sejarah kebaya di Tanah Air.
Sementara ini, kebaya yang akan diajukan baru 3 model tersebut. Sedangkan model lain yang akan ditelusuri sejarahnya, di antaranya kebaya kemben yang dikenakan dalam adat tradisi di Keraton dan lain-lain.@tok
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!